International Investor Club – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) resmi memecah lembar saham (stock split) dengan rasio 1:2. Aksi korporasi tersebut dilakukan demi menarik minat lebih banyak investor ritel untuk membeli saham emiten konsumer tersebut.

Baca Juga: Bioskop di Izinkan Dibuka Kembali, Beginilah Performa Saham Mal

SIDO Stock Split

SIDO
CNBC Indonesia (doc.)

Dalam sajian berita Inews dijabarkan, langkah tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUSPLB) yang digelar Kamis kemarin (27 Agustus). Dengan stock split, jumlah saham beredar perseroan semakin banyak.

Direktur Keuangan Sido Muncul, Leonard mengungkapkan:

“Jumlah saham akan menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, dari 15 miliar ke 30 miliar. Nominal dari Rp 100 menjadi Rp 50 per lembarnya.”

Saham SIDO relatif kurang likuid sehingga kurang menarik perhatian para trader. Pada penutupan perdagangan sore ini, nilai transaksi saham Sido Muncul hanya Rp 51,37 Miliar dengan pembentukan harga berakhir di Rp 1.405 per lembar.

Leonard berharap keputusan perseroan melakukan stock split direspons positif investor ritel. Dengan begitu, saham SIDO lebih likuid karena harga saham bakal di bawah Rp 1.000 per lembar.

Dia menyebut, Sido Muncul merupakan emiten yang memiliki fundametal sangat baik. Pada tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih minimal dua digit.

Leonard pun mengungkapkan:

“Fokus kami di tahun 2020 ini adalah meningkatkan ketersediaan stok, khususnya di channel-channel distribusi dan online store. Kami melihat selama pandemi ini ada switching customer behavior yang cenderung membeli produk online, jadi kami pastikan ketersediaan stoknya pasti ada di market.”

Tembus Arab Saudi

Tempo (doc.)

Sebelumnya, dalam sajian berita Inews dijabarkan, SIDO telah melakukan ekspor perdana jamu ke Arab Saudi. Ekspor tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, pada 11 Agustus lalu mengungkapkan:

“Selalu ada peluang di tengah kesulitan. Salah satunya, peluang ekspor produk rempah-rempah Indonesia. Peluang inilah yang harus terus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha dan peluang ini juga yang dapat meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia di masa pandemi Covid-19.”

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan menyebut bahwa produk jamu Indonesia terus berkembang dan semakin diakui dunia internasional. Ekspor ini diharapkan menjadi pendorong bagi industri biofarmaka serta makanan dan minuman untuk melakukan penetrasi ke pasar global.

Kasan menyebut, ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kerja sama antara SIDO dengan mitra dari Arab Saudi, Mizanain. Kesepakatan itu dicapai pada perhelatan Trade Expo Indonesia pada Oktober 2019.