International Investor Club – Harga saham emiten-emiten pertambangan tiba-tiba melesat pada perdagangan sesi I, Rabu kemarin (2 September) seiring dengan mulai naiknya harga batu bara global. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memimpin penguatan saham tambang batu bara pada saat itu.

Baca Juga: 5 Saham Ini Bikin IHSG Terjun Bebas! Kok Bisa?

ADRO dan Saham Tambang

IDX Channel (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham ADRO melesat 3,95% di level Rp 1.185/saham dengan nilai transaksi Rp 164 Miliar dan volume perdagangan 139,2 juta saham.

Dalam 30 hari perdagangan terakhir saham ADRO ini naik 9% dan 3 bulan terakhir naik 18% dengan kapitalisasi pasar Rp 37,74 Triliun.

Berikutnya saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) masuk top gainers dengan penguatan 2,80% di posisi Rp 294/saham. Nilai transaksi mencapai Rp 26,4 Miliar dengan volume perdagangan 89,6 juta saham.

Namun saham tambang khususnya tambang mineral dengan penguatan paling tinggi melebihi ADRO yakni PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC).

Bisnis ZINC pada awalnya yakni bijih besi, tapi sejak 2014 perseroan fokus ke dalam produksi Galena (PbS) sehubungan dengan harga pasar bijih besi yang terjun bebas. Galena adalah mineral berwarna abu-abu kebiruan dengan kilap logam yang tersusun atas senyawa Pbs, sumber utama logam perak.

Baca Juga: Deflasi Hajar Saham Ritel & Barang Konsumsi!

Batu Bara

Tirto ID (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, saham ZINC memimpin top gainer di BEI dengan penguatan harga saham 10% di level Rp 154/saham dengan nilai transaksi Rp 124,9 Miliar dan volume perdagangan 822,3 juta saham.

Di sisi lain, saham emiten batu bara BUMN yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga naik tipis 0,48% di posisi Rp 2.110/saham dengan nilai transaksi Rp 24,93 Miliar dan volume perdagangan 11,76 juta saham.

Data Refinitiv pun mencatat, belakangan ini harga batu bara termal Newcastle memang melesat signifikan. Meskipun pada perdagangan sebelumnya, harga komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini kembali mengalami koreksi.

Awal September ini, harga batu bara Newcastle untuk kontrak yang aktif ditransaksikan tergelincir ke $ 52,6/ton dari sebelumnya di harga $ 52,75/ton. Harga batu bara turun 15 sen atau 0,28%.