BUMI dan Bakrie

International Investor Club – Harga saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Aburizal Bakrie terpantau mulai bangkit pada perdagangan hari ini setelah bulan Mei lalu seluruh saham Grup bakrie anjlok ke level terendah di angka gocap.

Baca Juga: Lagi! Ada Saham yang Terancam di Delisting dari BEI

BUMI Bangun dari Tidur

Kontan (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, belum lama ini, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang terafiliasi dengan Grup Bakrie mulai bergerak pada perdagangan kemarin dan akhirnya bangkit dari level terendah yang diijinkan oleh regulator yakni Rp 50/unit.

Simak gerak saham-saham yang terafiliasi dengan Grup bakrie pada perdagangan saat itu.

saham bakrie
CNBC Indonesia (doc.)

Terpantau harga saham ‘sejuta umat’ BUMI berhasil terbang 10% pada perdagangan hari ini ke level Rp 55/unit.

Pasar berhasil merespons penguatan harga batu bara acuan Newcastle ke atas angka psikologisnya US$ 50/ton di harga US$ 51,7/ton dengan positif.

Selain itu kabar bahwa perseroan mulai menggarap hilirisasi yang bakal memberikan nilai tambah besar atas produk batu baranya juga berhasil membuat harga BUMI bangkit.

BUMI membentuk konsorsium bersama Bakrie Capital, PT Ithaca Resources, dan Air Products untuk membangun industri metanol senilai $ 2 Miliar atau setara Rp 30 Triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$) di Batuta Industrial Chemical Park, Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Baca Juga: ADRO dan Saham Tambang Lain Melesat, Ada Apa Gerangan?

Saham Bakrie

Wikipedia (doc.)

Menurut AirProduct, proyek skala global tersebut memungkinkan produksi metanol hingga 2 juta per ton per tahun, yang berasal dari batu bara sebanyak 5 juta-6 juta ton per tahun. Produksi ditargetkan efektif dimulai pada tahun 2024.

Anak usaha BUMI yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga sudah bangkit dari level terendahnya gocap terlebih dahulu dari induk usahanya. Terpantau harga BRMS hari ini stagnan di level Rp 55/unit.

Selain itu harga saham Grup Bakrie yang juga berhasil melesat pada perdagangan hari ini adalah PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) dengan apresiasi 4,12% ke level Rp 101/unit.

UNSP sendiri sempat anjlok ke level terendahnya Rp 50/unit pada Mei silam sebelum berhasil reli 62,9% pada 3 hari perdagangan terakhir.

Akan tetapi terdapat 2 saham Grup Bakrie yang sedang disuspensi (dihentikan perdaganganya) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kedua saham itu adalah PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang terakhir diperdagangkan di harga terendahnya yakni Rp 50/unit alias gocap dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang terakhir juga diperdagangkan di harga gocap. Suspensi ini dilakukan karena kedua emiten tersebut terlambat merilis laporan keuanganya.

Praktis tersisa 2 saham Grup Bakrie yang tidak tersuspensi dan belum bangkit dari level gocap yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Terkait saham Bumi Resources, Direktur dan Sekretaris Perusahaan, Dileep Srivastava menjelaskan bahwa harga saham bumi telah beranjak dari Rp 50/unit. Dengan jumlah saham yang ditransaksikan sekitar 3 miliar unit.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, Dileep mengungkapkan:

“Mungkin ada beberapa spekulasi dari cerita positif yang baru. Bisa jadi ekspektasi BRMS (Bumi Mineral Resources) atau status IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus), CCoW (Coal Contracts of Work) atau beberapa harapan positif dari RUPSLB 16 September.”

Menurut Dileep, secara keseluruhan prospek Bumi dalam jangka menengah cukup menjanjikan. Produksi batu bara mencapai 100 juta ton per tahun dengan biaya yang lebih rendah.