International Investor Club – Di saat pandemi virus corona Covid-19 seperti saat ini, investor sepertinya harus berpikir panjang dalam berinvestasi. Pasalnya hampir seluruh sektor terdampak dari wabah virus yang berasal dari Wuhan, China ini.

Beberapa instrumen investasi patut dilihat bagi kalangan investor, agar dapat meminimalisir risiko yang terjadi akibat pandemi corona.

Baca Juga: ADRO dan Saham Tambang Lain Melesat, Ada Apa Gerangan?

Pilihan Investasi saat Pandemi

India Times (doc.)

Seperti yang kita tahu, banyak instrumen-instrumen dalam berinvestasi, seperti investasi tradisional seperti emas, investasi di pasar modal misalnya saham, atau investasi di sektor riil properti.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Emas merupakan instrumen investasi tertua di dunia, karena emas sudah dikenal banyak orang sebelum mengenal uang. Emas juga dianggap instrumen safe haven hingga kini.

Sedangkan saham adalah instrumen investasi berupa pembelian surat-surat berharga suatu perusahaan. Saham menganut prinsip high risk, high return, artinya jika kita ingin mendapat return yang besar, maka tingkat risiko yang akan terjadi juga besar.

Indikator keberhasilan suatu saham tercermin dalam indeks acuan saham-saham dari emiten yang tentunya sudah berstatus go public atau tercatat di bursa saham, dalam hal ini di Indonesia yakni Bursa Efek Indonesia. Indeks acuan saham-saham di Indonesia menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca Juga: Lagi! Ada Saham yang Terancam di Delisting dari BEI

Instrumen Investasi

Investasi Morgan Shi

Instrumen investasi selanjutnya adalah investasi properti. Investasi ini dilakukan dengan cara pembelian, kepemilikan, pengelolaan, penyewaan, dan penjualan real estate untuk menghasilkan laba atau profit.

Investor di properti merupakan investasi cara lama yang mulai dihindari oleh sebagian investor, karena return yang akan didapat tidak semenarik dengan instrumen investasi lainnya seperti saham dan emas.

Umumnya, investasi di properti dilakukan saat pembangunan baru akan dimulai atau ketika masih berupa petak-petak tanah yang belum ada bangunannya. Hasil investasi dapat diambil ketika bangunan tersebut sudah jadi bahkan hingga seluruhnya jadi.

Oleh karena itu, Return yang diharapkan dari hasil investasi di properti akan didapat jika bangunan tersebut sudah jadi utuh. Alasan itulah yang menjadi investor properti mulai beralih ke instrumen lainnya.

Berikut penjabaran ketiga instrumen berdasarkan sajian berita CNBC Indonesia:

Emas

Secara 10 tahun terakhir, harga emas mencatatkan reli setelah berhasil rebound pada 2015 yang merupakan tren pelemahan dari rekor tertinggi sebelumnya pada 2011 hingga menuju harga tertinggi berikutnya sepanjang sejarah di level US$ 2.069,4/troy ons.

Namun, pola pergerakan harga emas diprediksi mengulang kejadian pada tahun 2011, yakni pada 6 September 2011, harga emas dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa kala itu di US$ 1.920.3/troy ons.

Kabar buruknya hari itu juga emas langsung ambrol, dan tidak pernah lagi menyentuh rekor tertingginya.

Saham

Saham dan IHSG

Sedangkan IHSG dilihat dari pola 10 tahun terakhir cenderung berbalik arah ke level tertinggi di 2015. Namun sepanjang itu, IHSG menunjukkan tren positif. Tetapi tren tersebut akhirnya terbanting akibat pandemi virus corona.

IHSG menjadi patokan dalam melihat pergerakan pasar saham di Tanah Air.

IHSG terkoreksi cukup dalam pada Maret hingga April 2020. IHSG sempat terkena suspend oleh BEI sebanyak 5 kali sepanjang Maret 2020. Catatan ini adalah catatan terburuk sepanjang sejarah, saat itu IHSG sempat terjun bebas ke level Rp 4.538,9 (mtm).

Kemudian, pada April, IHSG bergerak positif hingga sempat menyentuh level Rp 4.811,8, level tertinggi pada periode tersebut.

Pada Agustus, IHSG tercatat di level Rp 5.238,5 atau menguat 1,39% secara month to month (mtm). Kinerja IHSG periode itu mulai membaik dari posisi paling rendah pada Maret.

Namun, tren pergerakan IHSG belum mampu berbalik arah hingga menyentuh posisi semula awal tahun 2020, pada Januari, IHSG berada di level Rp 6.283,6.

Sampai saat ini, IHSG secara bulanan (mtm) masih berusaha menunjukkan penguatan, walaupun secara harian pada perdagangan akhir Agustus melemah 2,02%.

Data BEI mencatat, hingga Kamis ini (3/9/2020), sesi II, IHSG sudah menguat 11,45% dalam 3 bulan terakhir, kendati secara tahun berjalan masih minus 16,56%.

Properti

Sementara itu, tren indeks properti di Indonesia yang direkam oleh data Refinitiv, ternyata sempat mengalahkan tren emas dan IHSG.

Dilihat polanya, tren properti pada level tertingginya selama 10 tahun terakhir berada di tahun 2016. Namun akhirnya berbalik arah hingga saat ini berada di bawah tren emas dan IHSG.

Pola pergerakan sektor properti dalam jangka pendek sepertinya belum akan mengalami perubahan. Ini dibuktikan bahwa pada Agustus, tren pergerakannya cenderung melemah ke level 298,2, mendekati level terendah akhir 2012.

Data Bank Indonesia yakni Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, sebelumnya mengindikasikan bahwa kenaikan harga properti residensial di pasar primer memang melambat.

Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2020 sebesar 1,68% (yoy), lebih rendah dibandingkan 1,77% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan IHPR diprakirakan akan berlanjut pada triwulan II 2020 dengan tumbuh sebesar 1,56% (yoy).