International Investor Club – IHSG Jatuh! Inilah Saham yang Menjadi DalangnyaHarga saham-saham unggulan berguguran pada perdagangan pagi kemarin, Senin (7 September) yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) drop pada pembukaan perdagangan awal pekan.

Baca Juga: AISA Langsung Melesat Saat Suspensinya Dibuka

IHSG Rontok

IHSG

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, investor tampaknya masih ragu dengan arah pasar saham setelah bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, akhir pekan lalu terkoreksi.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), pemimpin kapitalisasi pasar saham terbesar, drop 1,8% ke level Rp 31.325/saham.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga turun 0,85% ke level harga Rp 3.520/saham.

Lalu saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,84% ke level Rp 5.875/saham, begitu pun saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) minus 2,71%.

Lainnya yakni saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) minus 0,48%, saham PT Unilever Indonesia Tbk ambles 1,19%. Ini merupakan deretan saham-saham berkapitalisasi besar yang tercatat di BEI.

Saa itu pun, IHSG dibuka dari zona merah melemah 0,09% ke level 5.235,01. Hingga pukul 09.24 WIB, IHSG sudah turun 0,72% ke level 5.202,27.

Sentimen Global

Global Bond

Akhir pekan lalu Wall Street mengalami penurunan. Indeks Nasdaq turun 1,27% atau 144,97 point dan berakhir di posisi 11.313,13. Lalu S&P 500 turun 0,81% atau 28,1 point dan berada pada posisi 3.426,96. Sementara indeks Dow Jones turun 0,56% atau 159,42 poin di posisi 28.133,31.

Adapun pemicu merahnya bursa Nasdaq yaitu dipicu dari anjloknya saham PayPal Holding, lalu disusul Lululemon Athletica Inc dan KLA Corp.

Sementara saham Tesla Inc masih berada di zona hijau dan mengalami peningkatan paling tinggi sebesar 2,781%, lalu disusul Mylan NV 2,264% dan United Airlines 2,166%.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, sentimen negatif bagi pasar finansial juga datang dari risiko eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dengan China.

Pemerintah AS dilaporkan mempertimbangkan mengenakan pembatasan ekspor untuk Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), produsen semikonduktor terbesar di China.

Tetapi ada juga kemungkinan datang sentimen positif. China akan melaporkan data neraca dagang yang bisa menunjukkan bagaimana kinerja perekonomian China lebih lanjut pasca pandemi Covid-19.

Melansir data dari Trading Economics, ekspor di bulan Agustus di bulan Agustus diprediksi meningkat 7,1% year-on-year (YoY), sementara impor naik 0,1% YoY. Artinya roda perekonomian China berputar lebih kencang yang bisa menjadi sentimen positif ke pasar keuangan global.