Banggar DPR

International Investor Club – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendapatkan banyak sorotan dari berbagai pihak. Semua itu lantaran keputusannya mengumumkan akan diberlakukan kembali PSBB Jakarta secara ketat.

Baca Juga: Indika Caplok 25% Saham Tambang Emas Sulsel Sebesar Rp 221 M

Sudut Pandang Banggar

Banggar DPR Said Abdullah
Gesuri ID (doc.)

Salah satu yang memberikan pernyataan tentang Anies adalah Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah. Dia menilai pernyataan Anies menjadi penyebab rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Anies telah mengumumkan akan menerapkan kembali PSBB Jakarta pada 14 September 2020. Penerapan PSBB kali ini sama seperti pada Maret atau ketika pandemi Corona masuk tanah air.

Dalam sajian berita Detikcom, Said mengungkapkan dalam rapat kerja Banggar:

“Kejadian kemarin [PSBB] sangat disesalkan atas pernyataan yang begitu bombastis, dramatis oleh Gubernur DKI Bapak Anies Baswedan sehingga menimbulkan hal yang tidak perlu dan membakar ludes Rp 300 Triliun saham-saham kita berguguran.”

Melansir data rangkuman perdagangan BEI pada 10 September 2020 kemarin, nilai kapitalisasi pasar modal sebesar Rp 5.682 Triliun. Angka itu turun Rp 297 Triliun dari nilai kapitalisasi pasar di hari sebelumnya sebesar Rp 5.979 Triliun.

Kemarin investor asing juga melakukan aksi jual dengan catatan net sell sebesar Rp 663 Miliar. Dengan begitu catatan net sell dari awal tahun mencapai Rp 33,57 Triliun.

Dengan kejadian tersebut, Said menilai akan memberikan dampak yang luas. IHSG pada perdagangan Kamis (10 September) ambles 5,01% ke level 4.891,46 setelah sebelumnya perdagangan sempat dihentikan oleh bursa karena turun lebih dari 5%.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 668 Miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi menyentuh Rp 10,2 Triliun.

Keuangan Nasional

obligasi dan rupiah

Melihat kondisi tersebut, Said meminta Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga serta mengawasi sektor keuangan nasional dari hal-hal yang tidak pasti.

Dalam sajian berita Detikcom, ia mengungkapkan:

“Kalau korporasi hancur, maka ritel akan hancur, inilah tantangan berat baik OJK dan BI.”

Selain itu, Said juga meminta BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Menurut dia, rupiah masih terjadi depresiasi secara konstan.

“Kami yakin terhadap berbagai upaya yang dilakukan dan ditempuh oleh gub BI, dan kami berharap gub BI juga menjaga stabilitas sektor keuangan karena kita khawatir upaya-upaya yang dilakukan Gubernur BI akan menjadi sia-sia bagi kita semua kalau tidak ada di antara kita koordinasi baik di semua lini,” ungkapnya.