Asing Beraksi!

International Investor Club – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas pada perdagangan sepekan lalu akibat koreksi tajam pada Kamis meskipun pada Jumat (11 September) akhirnya rebound.

Baca Juga: Indika Caplok 25% Saham Tambang Emas Sulsel Sebesar Rp 221 M

Asing Borong Saham

ITTG saham
CNBC Indonesia (doc.)

Koreksi tajam IHSG pada Kamis dipengaruhi rencana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Senin ini yang diumumkan pekan lalu.

Pada perdagangan Jumat lalu, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, IHSG ditutup naik 2,56% di posisi 5.016 dengan nilai transaksi Rp 14 Triliun dengan catatan 299 saham naik, 158 saham turun, dan sisanya 119 stagnan.

Dalam sepekan, IHSG minus 4,26% efek dari penurunan signifikan pada Kamis yang mencapai -5,00%.

Tercatat investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sepekan mencapai Rp 4,63 Triliun, terbagi atas net sell di pasar reguler Rp 4,56 Triliun dan Rp 65,94 Miliar di pasar nego dan tunai.

Pada akhir pekan lalu, Jumat, dalam sehari asing melepas Rp 2,26 Triliun di semua pasar dengan catatan net sell di pasar reguler mencapai Rp 2,12 Triliun.

Meski demikian, di tengah koreksi IHSG dalam sepekan (7-11 September), ternyata masih ada 5 saham dengan catatan asing net buy atau beli bersih yang dijabarkan dalam sajian berita CNBC Indonesia. Berikut adalah kelima saham tersebut:

5 Saham Net Buy Asing

PT Tifa Finance Tbk (TIFA)

Saham emiten multifinance ini ninus 2,06% di level Rp 476/saham dalam sepekan. Tapi asing masuk Rp 252,33 Miliar di saham TIFA.

Sepekan lalu, nilai transaksi mencapai Rp 454,6 Miliar dengan volume perdagangan 874,45 juta saham.

Korea Development Bank (KDB), raksasa keuangan asal Korea Selatan baru saja resmi mencaplok 80,65% saham TIFA pada 8 September 2020 dari DSU Group (PT Dwi Satrya Utama) dan Tan Chong International dengan nilai sekitar Rp 452 Miliar.

Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)

Saham TOWR naik 0,98% di level Rp 1.035/saham dalam sepekan terakhir dengan catatan nilai transaksi mencapai Rp 889,92 Miliar dengan volume perdagangan 864,34 juta saham. Asing masuk ke saham emiten menara telekomunikasi ini sebesar Rp 89,52 Miliar dalam sepekan terakhir.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

Saham emiten rokok milik Philip Morris ini dibeli asing Rp 19,6 Miliar dalam sepekan terakhir. Pada periode sepekan lalu, saham HMSP malah turun 2,74% di posisi Rp 1.595/saham dengan nilai transaksi Rp 219,4 Miliar dan volume perdagangan 139,29 juta saham.

PT United Tractors Tbk (UNTR)

Saham anak usaha Grup Astra ini dibeli asing Rp 17,89 Miliar dalam sepekan terakhir. Saham induk usaha PT Acset Indonusa Tbk (ACST) ini dalam sepekan minus 0,76% di posisi Rp 22.925 / saham dengan nilai transaksi Rp 446,56 Miliar dan volume perdagangan 19,87 juta saham.

PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF)

Saham emiten Grup Lippo ini dibeli asing sepekan Rp 15,54 Miliar. Sepekan, saham peritel fashion ini ambles 11,72% di posisi Rp 1.130/saham dengan nilai transaksi Rp 110,83 Miliar dan volume perdagangan 91,88 juta.

Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan salah satu sentimen pasar masih soal infeksi Covid-19 yang dicermati oleh investor pasar modal.

Data Covid 19 di Indonesia masih terus naik baik dari Total Cases, Daily New Cases, Active Cases. Untuk data total Deaths dan Daily Deaths juga tetap naik. Masih naiknya kasus potensi tekanan pada perekonomian.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, ia mengungkapkan:

“Tetapi naiknya jumlah recovered menjadi sentimen positif penyeimbang. Terlihat terjadi perlambatan ekonomi di Agustus 2020 di tandai dengan deflasi sebesar 0,05%. Angka inflasi secara year to date menjadi 0.93% dan inflasi tahunan atau year on year menjadi 1,32%.”

Ia juga menjelaskan, “Pandemi Covid 19 telah memukul daya beli masyarakat sehingga deman atau permintaan barang dan jasa turun. Hal ini berdampak pada peluang konsumsi masyarakat turun sehingga berpeluang membuat pertumbuhan ekonomi di Kuartal ke 3 akan kembali negatif. Bila belanja pemerintah efektif.”

Dia menilai, pelaku pasar akan mencermati perkembangan penerapan PSBB total dan bila terjadi secara ketat diperkirakan akan mengganggu pemulihan ekonomi yang sedang terjadi.