International Investor Club – Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) langsung melesat dan masuk deretan top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi I, Rabu kemarin (14 Oktober).

Baca Juga: Efek Omnibus Law, Saham di Sektor Ini Bakal Untung!

ANTM Melonjak

Kompas Kerja (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, data BEI mencatat, saham ANTM naik 14,38% di level Rp 875/saham dengan nilai transaksi Rp 429 Miliar dan volume perdagangan 502 juta saham.

Dalam 5 hari perdagangan terakhir akumulatif, saham anak usaha MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminimum (Inalum) ini naik 23% dan 6 bulan terakhir melesat 96%.

Selain ANTM, saham anak usaha MIND ID lainnya yakni PT Timah Tbk (TINS) juga naik 8,84% di level Rp 800/saham dengan nilai transaksi Rp 66,7 Miliar dan volume perdagangan 84 juta saham.

Sementara itu, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang juga masuk anggota Holding BUMN di bawah MIND, juga naik 1,83% di posisi Rp 3.900/ saham.

Kabar baik datang dari rencana pemerintah membentuk Holding bernama PT Indonesia Battery untuk mengoperasikan pabrik baterai kendaraan listrik.

Hal tersebut disampaikan CEO Holding BUMN Pertambangan MIND ID atau Inalum Orias Petrus Moedak dalam sebuah diskusi tentang hilirisasi nikel secara virtual pada Selasa lalu (13 Oktober).

Pabrik Baterai

Bisniscom (doc.)

Orias mengatakan pembangunan pabrik baterai akan dipimpin oleh Inalum melalui ANTM, bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Ketiga perusahaan ini nantinya menjadi bagian dari perusahaan Holding Indonesia Battery ini.

Saat ini pihaknya tengah menyusun pembentukan perusahaan Holding PT Indonesia Battery tersebut. Dalam sajian berita CNBC Indonesia, ia mengungkapkan:

“Di hulu ada Antam, yang intermediate ada Pertamina, hilir ada PLN. Sekarang lagi diproses. Itu nanti ada Indonesia Battery, itu holding company yang terlibat dalam pembuatan baterai dari hulu ke hilir.”

Orias menyebut saat ini ada dua calon mitra dari China dan Korea yang sedang didekati untuk melakukan kerja sama dan menjadi investor di pabrik baterai mobil listrik ini. Proyek ini menurutnya akan terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Tak tanggung-tanggung, dia menyebutkan nilai investasinya bahkan diperkirakan sampai sekitar $ 12 Miliar atau sekitar Rp 177,6 Triliun.

Lebih lanjut dia mengatakan, perkiraan investasi $ 12 Miliar tersebut akan diperoleh dari dua perusahaan calon mitra di mana masing-masing diperkirakan akan berinvestasi $ 7 Miliar dan $ 5 Miliar, tergantung dari ukurannya. Saat ini menurutnya pihaknya tengah dalam proses pembicaraan dengan calon investor tersebut dan diharapkan kesepakatan bisa segera tercapai.

Dia mengatakan biaya investasi $ 12 Miliar ini akan diperoleh dari ekuitas pemegang saham dan perbankan. Semua lini menurutnya harus difokuskan, jangan sampai perbankan tidak memberikan dukungan.