International Investor Club – Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada perdagangan sesi I bergerak di zona merah jelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada jam 14.00 WIB, Rabu kemarin (21 Oktober).

Isu pergantian pucuk pimpinan Bank Mandiri tampaknya menjadi perhatian investor.

Baca Juga: Obligasi MTF Raup Peringkat Level idAA+ Sebelum Jatuh Tempo

BMRI Merah

BMRI Bank Mandiri
Minews ID (doc.)

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.45 WIB, harga saham Bank Mandiri terkoreksi 0,44% ke level Rp 5.625/unit.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, nilai transaksi tercatat mencapai Rp 111,28 Miliar dari volume saham yang ditransaksikan sebanyak 19,65 juta unit.

Investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) dengan nilai Rp 16,18 Miliar.

Dalam sepekan terakhir, atau 5 hari perdagangan, harga saham Bank Mandiri tercatat mengalami koreksi 2,6%. Namun dalam satu bulan terakhir, harga saham bank terbesar kedua dari nilai aset ini, tercatat naik 8,17%.

Pada pukul 11.18 WIB, saham BMRI minus 0,44% di level Rp 5.600/saham.

Dua dari empat nama yang beredar disebut-sebut menjadi kandidat terkuat Direktur Utama Bank Mandiri. Informasi ini dikumpul CNBC Indonesia dari berbagai sumber di kalangan bankir yang mengetahui proses ini, tapi tidak bersedia disebutkan namanya.

Dirut Baru

Merdeka (doc.)

Dalam 2 hari terakhir, berkembang spekulasi nama-nama yang akan menduduki kursi Mandiri 1, yang ditinggalkan oleh Royke Tumilaar karena diangkat sebagai Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Sebelumnya ada empat nama yang beredar, yaitu Hery Gunardy yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama; Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko; Darmawan Junaidi, Direktur Treasury, International Banking, and Special Asset Management; dan Pahala Mansury, Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Kabar terakhir, nama Darmawan Junaidi kini telah resmi menjadi Dirut baru dari Bank Mandiri.

BNLI

BNLI Bank Permata

Selain itu, sebelumnya, Peningkatan harga saham yang tidak biasa (Unusual Market Activity) terjadi pada saham milik PT Bank Permata Tbk (BNLI) menyebabkan saham tersebut diawasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan informasi pada laman resmi BEI, pengumuman UMA tersebut tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan di bidang pasar modal.

Dalam sajian berita Kompas dijabarkan, adapun informasi terakhir saham BNLI tercatat pada tanggal 9 Oktober 2020 mengenai laporan informasi atau fakta material sehubungan dengan pengumuman keterbukaan informasi atas pelaksanaan penawaran tender wajib oleh Bangkok Bank Public Company Limited, dan juga perubahan kepemilikan saham perusahaan.

Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham BNLI tersebut, para investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi Bursa.