Saham Bersinar

International Investor Club – Pergerakan harga emas belakangan ini tidak seperti biasanya. Ketika dolar AS anjlok harga logam kuning itu juga ikutan tergelincir. Hanya di minggu ini saja harga emas drop 3,21%.

Baca Juga: PPRO Meroket, Investornya Panen Cuan Gede Nih!

Saham Semakin di Lirik saat Emas Jatuh

Saham BUMN

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, pada pertengahan pekan ini, harga logam mulia emas di pasar spot menguat 0,16% dari posisi penutupan kemarin. Pada 08.50 WIB harga bullion dibanderol di US$ 1.810,53/troy ons. Ya, harga emas terjun bebas dari level US$ 1.870/troy ons akhir pekan lalu.

Pasar sedang dalam mode risk on sehingga aset minim risiko seperti emas pun ditinggalkan. Aksi jual emas membuat harganya tertekan. Apalagi pemicunya kalau bukan kabar baik vaksin Covid-19 yang datang secara bertubi-tubi.

Sepanjang bulan ini ada empat kandidat vaksin Covid-19 yang dilaporkan memiliki tingkat keampuhan proteksi yang menjanjikan. Pertama ada kandidat vaksin Pfizer dan BioNTech. Kandidat vaksin yang mereka kembangkan diklaim punya tingkat keefektifan sampai lebih dari 90%.

Menyusul Pfizer dan BioNTech ada Gamaleya Research Institute dengan Sputnik V miliknya. Kandidat vaksin Rusia ini juga diklaim punya efektivitas proteksi di atas 90%. Pekan lalu giliran sang pelopor vaksin Covid-19 Moderna Inc yang mengumumkan vaksin buatannya punya efektivitas sampai 94,5%.

Baca Juga: Reksadana dan Dampak Pemangkasan Suku Bunga Acuan

Sentimen Vaksin

Vaksin Corona bio farma

Saham – Dan di pekan ini, AstraZeneca juga mengklaim vaksin miliknya punya efektivitas 70% – 90%. Meskipun kabar vaksin masih perlu di follow up karena banyak informasi yang belum komprehensif dan perekonomian tidak bisa serta merta bangkit meski sudah ditemukan sang juru selamat, pasar terus menyambut hangat.

Dijabarkan dalam sajian berita CNBC Indonesia, saat dolar AS anjlok, harga emas juga ikut. Padahal biasanya emas dan greenback punya korelasi negatif kuat. Kali ini para investor lebih berani ambil risiko dan memutarkan uangnya ke aset-aset ekuitas maupun komoditas non safe haven. Itulah yang menyebabkan harga emas jatuh.

Kendati masih banyak analis yang bullish dalam memandang prospek emas ke depan. Beberapa bahkan punya tone yang berganti soal emas. Westpac meramal bahwa harga emas bisa jatuh ke US$ 1.650 dalam dua tahun mendatang.

Sementara Bank of America (BoA) yang tadinya bullish dan memproyeksi harga emas bakal ke US$ 3.000/troy ons kini menjadi netral. Kemungkinan adanya tiga vaksin yang sangat efektif pada tahun 2021 telah mengubah lanskap pasar emas, menurut analis di Bank of America Securities.

Dalam presentasi prospek 2021 BoA, Francisco Blanch, kepala penelitian komoditas & derivatif global, dan Michael Widmer, ahli strategi logam di bank, mengumumkan perubahan signifikan dalam perkiraan emas mereka untuk 2021. Bank tidak lagi mengharapkan harga mencapai US$ 3.000/troy ons.

“Kami sekarang netral terhadap emas,” kata Blanch. “Kami melihat risiko kenaikan suku bunga jangka panjang.” tambahnya, sebagaimana diwartakan Kitco News.

“Ketika ekonomi global terbuka, emas menghadapi lebih banyak tantangan, membuatnya sulit untuk mencapai US$ 3.000/oz, tetapi stimulus fiskal dan moneter yang sedang berlangsung akan mendorong logam kuning ke atas US$ 2.000 / oz lagi,” kata analis bank untuk tahun 2021.