PPRO dan DKFT

International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan terjadinya harga saham yang bergerak di luar kewajaran alias unusual market activity (UMA) atas saham emiten properti BUMN, PT PP Properti Tbk (PPRO) dan emiten pertambangan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Baca Juga: PPRO Meroket, Investornya Panen Cuan Gede Nih!

PPRO dan DKFT dalam Pantauan BEI

PPRO

Dalam pengumuman yang disampaikan Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Lidia M. Panjaitan dan Pelaksana Harian Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan, Mulyana, terjadi peningkatan harga yang tidak wajar atas saham PPRO.

Dalam pengumuman resminya, BEI mengungkapkan:

“Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran perundang-undangan di bidang pasar modal.”

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, pada perdagangan Kamis kemarin, 26 November, data BEI menunjukkan saham PPRO masih minus 2,94% di posisi Rp 99/saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya melesat 85%, 1 bulan naik 96%, dan 3 bulan terakhir juga melesat 96%. Sejak awal tahun, saham PPRO masih naik 44,12%.

Sementara itu, BEI juga mengumumkan pergerakan harga saham DKFT yang bergerak di luar kewajaran dalam pengumuman 23 November 2020.

Terpantau, harga saham DKFT pada perdagangan Kamis pagi juga minus 0,51% ke level Rp 197 per saham. Sejak awal tahun, sahamnya masih naik 38,73%. Dalam 6 bulan terakhir saham DKFT melesat 116%.

Pergerakan Tak Wajar

DKFT – Neraca (doc.)

Dalam pengumuman BEI yang diteken Lidia M. Panjaitan diungkapkan:

“Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham DKFT tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini.”

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, BEI menghimbau agar investor memperhatikan jawaban Perusahaan Tercatat atas permintaan konfirmasi Bursa dan mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya.

Selanjutnya, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Selain itu, sebelumnya diberitakan, saham-saham perseroan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali melesat pekan ini, bahkan kenaikanya melebihi indeks acuan yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat naik hingga 1% sebelum menukik ke zona merah dan kembali menghijau.

Hal ini sendiri ditunjukkan oleh kemampuan indeks BUMN20 yang biasanya menjadi indeks acuan performa perusahaan-perusaahan milik negara yang berhasil naik 1,31% meskipun saat ini IHSG hanya mampu naik 0,44%. Kenaikan indeks BUMN20 jauh lebih tinggi dibanding indeks acuan lainya seperti LQ45 yang hanya mampu terbang 0,71%.

Kenaikan ini sendiri terjadi di tengah optimisme para pelaku pasar setelah indeks acuan bursa New York, Dow Jones menemus level tertinggi sepanjang masanya yakni 30.000.