Saham Batu Bara

International Investor Club – Harga saham batu bara kembali melesat pada perdagangan awal Desember ini, seiring dengan indeks acuan bursa lokal yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,70%.

Baca Juga: Dana Asing Rp 1 T Cabut dari Bursa, Karena Covid-kah?

Saham Batu Bara Ramai Peminat

PTBA Batu Bara
Bisniscom (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, meskipun sempat anjlok ke zona merah akibat Gubernur DKI Jakarta yang dikabarkan positif Covid-19, IHSG mampu kembali ke zona hijau, begitu pula dengan saham batu bara.

Kenaikan saham batu bara tak lepas dari banyaknya kabar baik yang menjadi katalis bagi saham batu bara dalam beberapa hari ini.Terbaru, sentimen positif datang dari kontrak pembelian batu bara Indonesia oleh China yang mencapai Rp 20 Triliun.

Hal ini menyebabkan saham batu bara melanjutkan reli panjang yang sudah terjadi selama sepekan terakhir setelah kenaikan harga komoditasnya ke level tertinggi selama 7 bulan terakhir serta kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar bahwa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Minerba akan diundangkan menjadi PP pada awal Desember.

Harga kontrak futures batu bara termal Newcastle masih ogah kendor. Sempat balik arah akhir pekan lalu, kemarin mepet lagi ke level US$ 70/ton. Di awal pekan ini harga kontrak futures batu bara termal Newcastle ditutup menguat 0,58% ke US$ 69,95/ton.

Harga Batu Bara

Batu Bara

Harga si batu legam memang belum mencapai level tertinggi sepanjang tahun di US$ 77,15/ton pada 13 Januari lalu. Namun dengan tercapainya level US$ 70/ton, harga komoditas unggulan RI dan Australia ini sudah berada di level awal tahun.

Serta hari ini kabar baik kembali datang dari rilis data PMI Manufaktur dimana IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 50,6 pada November 2020. Naik hampir tiga poin dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 47,8bahkan jauh di atas konsensus yang meramalkan PMI Indonesia hanya di kisaran 47,2. Diketahui sektor manufaktur dan energi menjadi salah satu konsumen batu bara terbesar di dalam negeri.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal. Kalau di atas 50, artinya dunia usaha memasuki fase ekspansi, jika di bawah 50 maka masih terkontraksi.

Tercatat seluruh emiten batu bara raksasa yang melantai di bursa efek berhasil menghijau pada perdagangan hari ini dan hanya satu yang stagnan dan satu yang terkoreksi.

Kenaikan sendiri dipimpin oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang berhasil terbang 6%ke level Rp 2.120/unit. PTRO sendiri sudah membukukan penguatan selama 12 hari perdagangan berturut-turut.

Sedangkan saham batu legam lain dengan kenaikan besar yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang berhasil terbang 5,34% ke level Rp12.200/unit. ITMG melanjutkan relinya setelah selama 3 hari berhasil terbang 16,45%.

Untuk saham batu bara raksasa Pelat Merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA)juga berhasil naik 2,97% ke level harga Rp2.430/unit setelah perseroan mulai merampungkan rencana gasifikasi batu bara menjadi produk turunan.

Sedangkan perusahaan batu bara yang terkoreksi hanyalah saham batu barasejuta umat yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang terpaksa anjlok5 ,97% ke level Rp63/unit.

Terbaru,China diperkirakan akan membeli batu bara Indonesia senilai US$ 1,47 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per US$) pada 2021.

Hal tersebut berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) dengan China Coal Transportation and Distribution yang ditandatangani pada Rabu, 25 November.