International Investor Club – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. merosot pada perdagangan Kamis kemarin (10 Desember) hingga ke bawah Rp 900.000/gram. Harga emas dunia yang turun pada perdagangan Rabu waktu setempat turut menyeret turun emas Antam.

Emas Antam Ambruk

Emas Antam
Kompas (doc.)

Melansir data dari situs resmi milik PT Antam, logammulia.com, emas satuan 100 gram yang biasa menjadi acuan ambrol 1,1% ke Rp 89.812.000/batang atau Rp 898.120/gram.

Sementara itu emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 956.000/batang, merosot 1,04% dibandingkan harga Selasa lalu. Sepanjang pekan lalu, hingga Selasa (8/12/2020), logam mulia ini melesat 2,55%.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, harga emas dunia pada perdagangan Rabu kemarin ambrol hingga 1,72% ke US$ 1.839,11/troy ons. Ambrolnya harga emas terjadi akibat pembahasan stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) yang masih belum ada titik terang. Padahal banyak yang berharap stimulus tersebut bisa cair di pekan ini.

Stimulus fiskal serta stimulus moneter merupakan bahan bakar bagi emas untuk menanjak. Sehingga belum pastinya kapan stimulus tersebut akan cair membuat emas merosot setelah membukukan penguatan dalam 5 dari 6 perdagangan sebelumnya.

Selain itu, belum pastinya stimulus fiskal membuat bursa saham AS juga merosot sebelumnya, alhasil dolar AS yang selama ini tertekan kembali naik. Indeks dolar AS kemarin menguat 0,13% ke 91,087.

Pengaruh Indeks Dolar

dolar as

Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini bahkan sudah menguat 3 hari beruntun meski tipis-tipis. Total penguatan selama periode tersebut sebesar 0,43%, setelah merosot 1,2% pada pekan lalu dan menyentuh level terendah dalam 2,5 tahun terakhir.

Kenaikan indeks dolar tersebut juga menekan harga emas. Emas dibanderol dengan dolar AS, saat the greenback menguat, maka harga emas akan lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan berisiko menurun.

Meski demikian, ke depannya dolar AS diprediksi masih akan melemah, bahkan hingga 2 tahun ke depan.

Hasil survei terbaru dari Reuters terhadap 72 analis menunjukkan, sebanyak 39% memprediksi dolar AS akan melemah hingga 2 tahun ke depan. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan prediksi lainnya. Sebanyak 10% bahkan memperkirakan dolar AS masih akan melemah lebih dari 2 tahun ke depan.

Sementara itu, 15% melihat pelemahan dolar AS hanya akan berlangsung kurang dari 3 bulan dan setelahnya mulai bangkit. 14% meramal pelemahan berlangsung kurang dari 6 bulan, dan 22% lainnya kurang dari 1 tahun.

Artinya, semua analis memprediksi dolar AS masih akan melemah, setidaknya hingga 3 bulan ke depan. Sehingga tekanan terhadap emas akan berkurang, bahkan berpeluang naik kembali.