International Investor Club – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan penerbitan pembiayaan obligasi diaspora atau diaspora bonds harus ditunda di tahun ini.

Baca Juga: Euro Cenderung Stabil Menjelang Stimulus ECB

Diaspora Bond

diaspora bond

Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Deni Ridwan menyebutkan, awalnya penerbitan diaspora bond direncanakan pada kuartal IV 2020. Namun tahun ini harus diundur lagi.

Deni menyebutkan, penerbitan yang harus ditunda ini disebabkan oleh kondisi pandemi Covid-19 yang cukup mempengaruhi proses pengembangan sistem termasuk pada calon mitra distribusi diaspora bonds.

Dalam sajian berita Kontan, Deni mengungkapkan:

“Diaspora bond penerbitan nya ditunda tahun ini karena kondisi pandemi cukup mempengaruhi proses pengembangan sistem, termasuk pada calon mitra distribusi diaspora bond.”

Untuk itu, Deni menyebutkan pemerintah masih harus melakukan penyesuaian regulasi pada lembaga-lembaga terkait untuk menyempurnakan penerbitan diaspora bond. “Kami targetkan penerbitan diaspora bond adalah semester II tahun 2021,” pungkasnya.

Asal tahu saja, diaspora bond rencananya akan diterbitkan pemerintah dalam denominasi rupiah. Dalam obligasi tersebut, pemerintah menawarkan tenor obligasi selama tiga tahun, dengan bentuk fixed rate, non tradable, tanpa early redemption, dan minimal pemesanan Rp 5 Juta dengan maksimal Rp 5 Miliar.

Adapun target investor yang dibidik dalam penerbitan surat utang ini, adalah diaspora atau warga negara atau orang-orang keturunan Indonesia yang tinggal di luar negeri, eks Warga Negara Indonesia, anak dari eks WNI, serta WNA yang memiliki orang tua WNI.

Obligasi

Obligasi

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto menilai bahwa prospek pasar obligasi masih menarik pada tahun depan. Sebab investor asing masih nyaman dengan pasar obligasi Indonesia. Saat ini porsi investor asing sekitar 38-40 persen di pasar obligasi.

Dari sajian berita Kontan, Ario mengungkapkan:

“Meski sempat turun di bawah 30 persen saat awal pandemi, mereka sudah mulai balik lagi. Ini yang membuat pasar semakin menarik.”

Menurut Ramdhan, pasar domestik juga cukup kuat terutama dari dana pensiun dan perbankan. Menurutnya likuiditas perbankan sangat longgar saat ini sehingga semakin banyak masuk ke obligasi Surat Utang Negara (SUN).

Ramdhan menyatakan obligasi merupakan satu-satunya instrumen investasi yang punya ketahanan baik di tengah krisis yang terjadi akibat kepanikan global setelah mencuatnya pandemi Covid-19. Dia mengatakan yield obligasi SUN terus menguat di mana untuk tenor 10 tahun saat ini ada dikisaran 6,1-6,2 persen, setelah sempat melemah pada awal-awal pandemi.

Stimulus yang digelontor pemerintah dan regulator di sektor jasa keuangan dinilai mendorong yield SBN cepat pulih. Hal itu terutama disebabkan oleh kondisi likiidtas perbankan yang sangat baik sehingga banyak masuk ke SBN.