International Investor Club – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada Agustus 2019 lalu telah memangkas Pajak Penghasilan (PPh) Obligasi untuk reksadana dari 15% menjadi 5%, aturan ini berlaku hingga akhir 2020. Selanjutnya, pada tahun 2021, PPh obligasi untuk reksadana ditetapkan sebesar 10%.

PPh Obligasi Naik

pph Obligasi
Kemenkeu (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, aturan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas PP Nomor 16 Tahun 2009 tentang pajak penghasilan atas penghasilan berupa bunga obligasi. Berdasarkan aturan ini dijelaskan besaran PPh sampai dengan 2020 sebesar 5% serta 10% untuk 2021 dan seterusnya. 

Direktur KSEI, Supranoto Prajogo menjelaskan bahwa insentif PPh menjadi 5% tersebut diberikan sejalan dengan adanya permintaan supaya instrumen reksadana lebih mature. Ke depan dengan meningkatnya PPh reksadana, Supranoto melihat kenaikan ini tidak akan mempengaruhi pertumbuhan reksadana.

“Pajak obligasi untuk reksadana di 2021 menjadi 10% ini terbatas pada kupon obligasi yang dibeli reksadana jadi tidak akan mempengaruhi pertumbuhan reksadana.”

ebagai gambaran, kepemilikan investor pada instrumen investasi reksadana dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Sejak akhir tahun 2019 hingga 30 November 2020 jumlah investor reksadana tercatat tumbuh 63,75%, pertumbuhan tersebut lebih tinggi bila dibandingkan investor saham yang tumbuh 40,1% dan Surat Berharga Negara yang tumbuh 43,12%. 

Sedangkan pada tahun 2018, jumlah investor reksadana juga tercatat tumbuh paling tinggi yaitu 59,91% menjadi 995.510. Di tahun 2019 kondisi yang sama juga terulang, investor reksadana tumbuh 78,25% menjadi 1,77 juta. 

Obligasi Korporasi

Obligasi - Bond

Selain itu, ditengah tekanan pandemic Covid-19 terhadap kemampuan perusahaan menunaikan kewajiban utang masih terasa, ternyata investasi obligasi korporasi masih memberi prospek cerah.

Obligasi korporasi masih menarik menjadi pengisi portofolio investasi karena memberikan imbal hasil lebih tinggi ketimbang obligasi pemeritah bertenor sama.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, dalam sajian berita Kontan mengungkapkan:

“Ini dapat menjadi kicker tambahan bagi kinerja portofolio.”

Selain itu, obligasi korporasi juga bisa menangkap upside dari potensi penurunan yield. Apalagi, suku bunga acuan Indonesia diprediksi masih akan turun. Alhasil, yield obligasi masih bisa turun.

Meski begitu, Ezra mengingatkan investor harus memperhatikan risiko gagal bayar pada obligasi korporasi. Ini dapat terjadi apabila kondisi keuangan emiten tidak sehat. Untuk memitigasi risiko ini, investor sebaiknya melakukan analisa fundamental saat memilih obligasi korporasi.

Asal tahu saja, outlook peringkat utang dari banyak emiten di dalam negeri masih negatif. Bahkan, banyak juga emiten yang peringkat utangnya merosot.