WIKA

International Investor Club – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat A untuk obligasi berkelanjutan I/2020 yang diterbitkan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dengan total nilai maksimum sebesar Rp 4 Triliun. Pefindo juga menetapkan peringkat A untuk sukuk mudharabah I/2020 dengan total nilai maksimum sebesar Rp 1 Triliun.

Baca Juga: PPh Obligasi Reksadana Naik Jadi 10% Tahun Depan, Terus Bagaimana?

Peringkat dari Pefindo

pefindo

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, hasil dari instrumen obligasi akan digunakan untuk refinancing obligasi Komodo milik WIKA. Sedangkan dana dari Sukuk Mudharabah akan digunakan untuk modal kerja untuk proyek infrastruktur dan gedung yang tidak bertentangan dengan prinsip Syariah di pasar modal. Prospek dari peringkat perusahaan adalah stabil.

Pefindo menyatakan obligor dengan peringkat A memiliki kapasitas yang kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya. Namun, Obligor agak lebih rentan terhadap pengaruh buruk perubahan keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan Obligor berperingkat lebih tinggi.

Dalam pernyataan resminya, Pefindo mengungkapkan:

“Peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar WIKA yang kuat di industri konstruksi nasional, sumber pendapatan yang beragam, dan fleksibilitas keuangan yang kuat. Peringkat tersebut dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi dalam jangka pendek hingga menengah, risiko ekspansi ke bisnis baru, dan lingkungan bisnis yang relatif tidak stabil.”

WIKA

Info Bank News (doc.)

Pefindo melanjutkan peringkat dapat dinaikkan jika WIKA secara signifikan memperkuat posisi pasarnya di industri konstruksi dalam negeri. Ini mencerminkan dari pencapaian pendapatan dan EBITDA yang ditargetkan secara berkelanjutan, sambil menunjukkan arus kas yang lebih stabil yang didukung oleh bisnis yang lebih terdiversifikasi.

“Peringkat dapat diturunkan jika Perusahaan menimbulkan utang yang lebih tinggi secara signifikan daripada yang diproyeksikan tanpa peningkatan EBITDA yang sesuai secara berkelanjutan.”

Asal tahu saja, WIKA adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi terbesar di Indonesia berdiri pada 1961. Perusahaan sedang mengembangkan bisnisnya ke bidang properti, realty, investasi, energi, pracetak, dan teknik konstruksi.

“Sebagai perusahaan konstruksi BUMN, WIKA memiliki partisipasi yang tinggi dalam proyek-proyek strategis pemerintah, seperti proyek kereta api kecepatan tinggi. Pada 30 September 2020, pemegang sahamnya adalah pemerintah Indonesia 65,05% dan publik 34,95%,” pungkas Pefindo.