International Investor Club – Obligasi (bond) menjadi salah satu instrumen investasi yang memiliki kinerja apik di tengah ketidakpastian pasar keuangan pada tahun ini. Obligasi pemerintah yang tercermin dalam INDOBEX Government Total Return tercatat tumbuh 14,26% secara year to date (ytd).

Baca Juga: Belvin: SWF Jadi Sentimen Super Positif untuk WSBP

Indeks yang Menguat

Obligasi Bond

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula menjelaskan bahwa dalam kondisi yang diselimuti ketidakpastian, kelas aset obligasi memang menjadi salah satu pilihan bagi investor untuk mengurangi tingkat risiko portofolio. Secara umum, Ezra menyebut kinerja pasar bond pada tahun ini didukung oleh tiga faktor. Ia pun menjelaskan:

Pertama, tren penurunan suku bunga secara global, termasuk juga di Indonesia. Kondisi ini menjadi iklim yang suportif bagi pasar obligasi, terutama bagi investor yang mencari yield lebih menarik di tengah tren penurunan suku bunga.

Kedua, gelontoran stimulus dari bank sentral yang meningkatkan likuiditas di sistem finansial. Tingginya likuiditas di sistem finansial meningkatkan permintaan untuk bond, karena perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas dapat memarkir dananya di obligasi.

Ketiga, pemerintah dan Bank Indonesia berhasil menerapkan kebijakan yang tepat dan kredibel untuk menjaga keyakinan pasar di tengah kondisi pasar yang volatile. Hal ini terlihat dari permintaan investor domestik yang kuat dan investor asing yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Prospek Obligasi Tahun 2021

Obligasi Indonesia

Ezra meyakini, tren positif pasar obligasi Indonesia masih akan berlanjut pada tahun depan seiring masih dalam fase pemulihan ekonomi. Menurut dia, terdapat banyak faktor yang suportif bagi pasar obligasi Indonesia di 2021.

Mulai dari kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif di pasar global dan domestik untuk mendukung proses pemulihan ekonomi. Lalu, kembalinya aliran dana asing ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil di tengah rendahnya tingkat inflasi dan suku bunga bank sentral global.

Selain itu, tren pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang masih akan berlanjut di 2021 karena kebijakan moneter dan fiskal AS yang tetap akomodatif.

Sementara dari dalam negeri, Ezra menilai fundamental rupiah tetap baik dengan inflasi rendah, adanya ruang penurunan suku bunga, dan arus dana asing yang mulai kembali masuk sehingga meningkatkan daya tarik bond Indonesia walau yield sudah turun di 2020.

“Permintaan investor lokal untuk obligasi diperkirakan akan tetap suportif di 2021, karena likuiditas pasar yang masih melimpah sementara pertumbuhan kredit masih relatif rendah. Patut diperhatikan ketersediaan dan distribusi vaksin akan menjadi perhatian pasar yang dapat menjadi katalis bagi pasar, namun juga dapat menjadi faktor risiko,” tambah Ezra.

Lebih lanjut, Ezra menyebut bond Indonesia masih menawarkan tingkat real yield yang menarik di antara negara berkembang lain. Sebagai gambaran, real yield obligasi 10-tahun Indonesia saat ini di kisaran 4,6%, sementara Filipina -0,5% dan India -1,7%, yang menjadikan daya tarik tinggi bagi obligasi Indonesia.

Dengan dinamika global dan domestik tersebut, Ezra memproyeksikan imbal hasil bond pemerintah 10 tahun dapat berpotensi turun ke level 5,5%–6,0% di 2021, sehingga masih memberikan potensi upside bagi investasi di pasar obligasi.

“Untuk saat ini, kami masih memandang positif potensi pasar obligasi, didukung oleh beberapa faktor seperti tingkat imbal hasil riil obligasi Indonesia yang masih menarik, potensi arus dana asing yang kembali ke negara berkembang termasuk Indonesia, tingkat suku bunga yang tetap akomodatif, dan likuiditas di pasar finansial yang tinggi dapat memberi support untuk pasar bond. Posisi durasi portofolio overweight terhadap tolak ukur untuk menangkap alpha bagi portofolio,” tutup Ezra.