International Investor Club – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah hampir 1 persen pada penutupan perdagangan Selasa kemarin (29 Desember). IHSG mengalami nasib kurang mujur karena mayoritas bursa Asia justru menguat tajam.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 57,38 poin atau 0,94 persen ke level 6.036,17. Hingga sesi pertama, indeks melemah 0,29 persen ke posisi 6.075,74. Indeks makin melorot di awal sesi kedua.

Baca Juga: Indeks Obligasi Naik 14% Tahun Ini, Bagaimana Prospek 2021?

IHSG Terperosok

IHSG Indonesia

Dalam sajian berita Bisniscom dijabarkan, Pada pukul 13.55 WIB, IHSG turun 0,79 persen atau 48,11 poin menjadi 6.045,44. Tak lama pada pukul 14.05 WIB, IHSG koreksi 1,05 persen ke level 6.029,31. Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak di rentang ranging.

Sebanyak 154 saham menguat, 331 saham melemah, 137 saham stagnan dibandingkan dengan posisi kemarin. Indeks melorot seiring dengan tekanan terhadap saham-saham big caps.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. turun masing-masing 0,22 persen dan 1,65 persen. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga terpantau anjlok 1,53 persen.

Dari sisi nilai transaksi, saham PT Aneka Tambang Tbk. dan PT Indosat Tbk. juga turut menyeret indeks ke zona merah. Saham ANTM turun 2,75 persen setelah mencetak transaksi Rp 1,5 Triliun. Saham ISAT juga terjungkal 6,64 persen dan mencetak nilai transaksi Rp 485,9 Miliar.

Sejumlah sentimen negatif memang menyelimuti indeks pada perdagangan hari ini. Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyampaikan pada awal 2021 sudah jelas sektor pariwisata dan penerbangan akan kena pukulan akibat penutupan seluruh penerbangan internasional masuk ke Indonesia.

Edwin pun mengungkapkan:

“Selain itu, ada rencana penerapan PSBB ketat di DKI Jakarta, sebagai pusat perekonomian Indonesia, jika penderita Covid19 meningkat. Kedua hal tersebut menjadi sinyal buruk bagi market.”

Bursa Asia Bangkit

Saham Asia dan Penurunan AS

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia terus mendapat angin segar dari sentimen stimulus di Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix di Jepang melesar 1,74 persen, disusul indeks Hang Seng di Hong Kong yang juga menguat 0,88 persen.

Indeks Kospi di Korea Selatan juga menggeliat setelah mencetak kenaikan 0,42 persen. Tidak ketinggalan, bursa saham Australia juga bergelora setelah indeks S&P/ASX 200 menguat 0,53 persen.

Kinerja mayoritas bursa saham di Asia yang menguat sejalan dengan tren di Wall Street yang melesat berkat persetujuan stimulus dampak corona dan pendanaan pemerintahan. Sebelunya, indeks S&P 500 dan indeks Dow Jones Industrial Average menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Pelaku pasar menyambut gembira paket bantuan di Amerika Serikat bernilai ratusan miliar dolar. Ditambah dengan pendanaan pemerintahan, total yang dikeluarkan bernilai $ 2,3 Triliun.