International Investor Club – Pergerakan harga saham PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) langsung menembus batas auto rejection atas (ARA) pada sesi perdagangan kedua Jumat lalu, 8 Januari. Masuknya Lo Kheng Hong menjadi pemegang saham 5 persen dikabarkan menjadi pemicu ARA tersebut.

Baca Juga: ADHI Dibekukan Oleh BEI Karena Harga Naik yang Tak Wajar

Lo Kheng Hong Borong GJTL

GJTL Lo Kheng
Moneter ID (doc.)

Dalam sajian berita Tempo dijabarkan, harga saham GJTL langsung dibuka menguat sejak pembukaan perdagangan Jumat. Pergerakan naik 15 poin ke level Rp 675 pada sesi pembukaan. Namun, pergerakan melejit setelah istirahat sesi pertama.

Harga saham GJTL menyentuh level ARA dengan menguat 25 persen atau 165 poin ke level Rp 825 hingga pukul 13:57 WIB. Penguatan terjadi meski investor asing melepas saham perseroan dengan net sell Rp 2,49 Miliar.

Saat dimintai konfirmasi oleh Bisniscom, investor kawakan Lo Kheng Hong membenarkan telah masuk ke saham GJTL. Ia pun mengungkapkan:

“Benar saya membeli saham Gajah Tunggal.”

Berdasarkan laporan di laman PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Lo Kheng Hong tercatat memegang 176,48 juta lembar saham GJTL. Jumlah itu setara dengan kepemilikan 5,06 persen.

GJTL bukan pendatang baru di BEI. Emiten produsen ban itu telah melantai di BEI sejak 8 Mei 1990.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal III 2020, GJTL membukukan rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 104,59 Miliar.

Pencapaian itu berbalik dari kuartal III 2019 yang berhasil mencatatkan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 139,5 Miliar.

Alasan Pembelian

The Motley Fool (doc.)

Lo Kheng Hong pun mengutarakan alasan dirinya menambah kepemilikan saham di PT Gajah Tunggal. Sekali lagi, Warren Buffett Indonesia yang juga penganut prinsip value investing ini, bisa dibilang jitu saat memilih saham dan bisa memberikan cuan ratusan persen.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, ia mengungkapkan:

“Ketika pandemi harga sahamnya turun ke Rp 300-an, jadi saya membelinya.”

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Lo Kheng Hong menggenggam 176,48 juta saham atau setara dengan 5,06% kepemilikan. Data ini muncul pada laporan KSEI pada Kamis (7 Januari).

Sementara itu, pada hari sebelumnya, Rabu (6 Januari) nama Lo Kheng Hong belum muncul pada daftar kepemilikan GJTL di atas 5%. Hal ini mungkin terjadi, karena kepemilikan LKH sebelumnya masih di bawah 5% sehingga tak tercatat di laporan KSEI.

Menurut Lo, Gajah Tunggal adalah pabrik ban terbesar di Asia Tenggara. Hingga sembilan bulan pertama 2020, Gajah Tunggal membukukan penjualan Rp 9,62 Triliun.

Selain itu, nilai buku (book value) per saham sebesar Rp 1.782, sehingga Lo menilai saham ini murah. Sementara itu, Gadjah tunggal tercatat punya ekuitas Rp 6,21 Triliun, laba operasi Rp 763,81 Miliar. Tapi pada kuartal III-2020, Gajah tunggal masih merugi Rp 104,6 Miliar.

Jika Lo mulai membeli saham ini dari harga Rp 300/unit, maka diestimasi dia sudah membukukan cuan 136% jika dihitung dari harga penutupan sesi I, Jumat kemarin.

Sebelumnya, LKH memang berkali-kali menyebut harga GJTL salah harga, yang mencerminkan harganya yang cukup murah.

“Kalau tidak salah harga, saya tidak disini. Kalau Rp 3.000 saya tidak datang, tapi karena GJTL saat ini Rp 600. [saya datang]”

Lo Kheng Hong juga beberapa kali menyatakan investasi di perusahaan publik menjadi nilai tambah, karena menghasilkan produk maupun jasa yang hampir setiap kali dapat ditemui di kehidupan sehari-hari.

Apakah Anda sudah membeli GJTL seperti LHK? atau Anda punya pandangan lain terhadap perusahaan produsen ban ini?