International Investor Club – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pergerakan harga saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), Jumat (8 Januari). Harga saham emiten dengan kode IRRA itu telah meningkat di luar kebiasaan atau unusual market activity (UMA).

Baca Juga: MEGA Dibeli Grup Salim, Dampak Bisnis Apa yang Terjadi pada BINA?

IRRA Masuk UMA

IRRA
Kontan (doc.)

“Perlu kami sampaikan bahwa bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” ungkap Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Lidia M. Panjaitan dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, Irvan Susandy dalam pengumuman akhir pekan kemarin.

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, melansir data dari RTI Business, pergerakan harga saham IRRA memang cenderung meningkat. Pada Senin (11 Januari) pukul 10.17 WIB tercatat sahamnya ada di level Rp 3.490. Dalam sepekan, saham IRRA sudah menguat 105,29%. Adapun selama sebulan terakhir harga sahamnya meningkat lebih drastis 141,67%.

Walaupun pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal, pihak bursa mengharapkan para investor tetap memperhatikan jawaban IRRA atas permintaan konfirmasi bursa.

“Mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi,” jelas Lidia dan Irvan dalam pengumuman tersebut. Adapun investor juga perlu mengkaji kembali rencana corporate action IRRA apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS.

Di sisi lain, investor juga diharap mencermati kinerja IRRA dan keterbukaan informasinya.

Asal tahu saja, di website BEI, informasi terakhir yang disampaikan IRRA tertanggal 21 Desember 2020 mengenai laporan hasil public expose tahunan.

Target Laba Bersih

saham asing investor
Pluang (doc.)

Selain itu juga, IRRA menargetkan tahun ini pendapatan dan labanya bisa tumbuh hingga 100% yoy karena adanya produk jarum suntik, swab antigen test, mesin plasa, dan USG akan tumbuh baik di sepanjang tahun ini.

Direktur Utama Itama Ranoraya, Heru Firdausi Syarif mengungkapkan bahwa pencapaian yang gemilang di tahun 2020 akan kembali dipertahankan, bahkan ditargetkan bisa tumbuh lebih tinggi di tahun ini. 

Asal tahu saja, proyeksi IRRA untuk kinerja di sepanjang 2020 IRRA mampu meraih pertumbuhan pendapatan di kisaran 90% – 95% (YoY) dibandingkan pendapatan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp 281,8 Miliar atau berkisar Rp 540 – Rp 550 Miliar.

Heru mengatakan IRRA juga memiliki produk baru dalam portofolio produk kami yaitu Avimac yang akan mulai kami pasarkan tahun ini.

Heru bilang tahun ini perseroan akan memulai menjual produk dengan merk Avimac berupa immunomodulator untuk peningkatan imun tubuh yang dapat mendukung percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia, produk ini sudah di produksi di Australia dan saat ini sedang dalam uji klinis tahap-3 di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan).

Perseroan optimis, dalam beberapa tahun ke depan dapat menjaga ritme pertumbuhannya. Hal ini didorong dengan beroperasinya penuh pabrik baru PT One Ject Indonesia (sister company) di tahun ini dengan total kapasitas mencapai 1,2 miliar jarum suntik sekali pakai (ADS) dan safety needle per tahun.