BUMI

International Investor Club – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melaporkan kepemilikan saham ritel atas nama Bambang Sihono sebesar 5,52%.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (12 Januari) adalah Bambang Sihono yang telah menambah kepemilikan saham yang sebelumnya 5,46% atau 3,72 miliar lembar saham menjadi 5,52% atau 3,76 miliar lembar saham.

Baca Juga: Asing Borong Saham Hingga Rp 2,43 Triliun, Apa Alasannya?

Bambang Sihono dan BUMI

BUMI
CNN Indonesia (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, adapun nilai dari saham tersebut setara dengan Rp 293,9 Miliar, dengan asumsi saat ini harga saham BUMI diperdagangkan di level Rp 78 per saham.

Berdasarkan data KSEI, pada pertengahan 2019 lalu, Bambang Sihono memiliki kepemilikan 2,98% di BUMI. Bambang menambah kepemilikan hingga mencapai 5,27% di pertengahan September 2020.

Sebagai informasi, harga saham bumi terpantau berada di level Rp 78 per saham, turun 1 poin atau 1,27% pada perdagangan sesi kedua. Saham BUMI diperdagangkan di kisaran Rp 76-80 per saham.

Hingga beberapa menit sebelum penutupan sesi kedua perdagangan Selasa kemarin, sebanyak 281,7 juta lembar saham atau senilai Rp Rp 21,7 Miliar saham BUMI telah diperdagangkan.

Produksi Batu Bara

PTBA Batu Bara
Bisniscom (doc.)

Selain itu diberitakan, disepanjang 2020, emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah memproduksi 83-85 juta ton batu bara, atau hampir sama dengan produksi 2019. Sementara untuk tahun ini, BUMI menargetkan produksi batu bara mencapai 85-90 juta ton atau naik sekitar 5,8% dibandingkan 2020.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengungkapkan:

“Masih belum menerima data pastinya, tetapi saya rasa produksi sepanjang 2020 mencapai sekitar 83-85 juta ton. Sementara tahun ini kami mengupayakan bisa mencapai produksi 85-90 juta ton.”

Sebelumnya, Dileep mengatakan dalam kondisi pasar yang sempurna produksi Bumi Resources pernah lebih tinggi hingga 100 juta ton per tahun. Dia mengatakan perusahaan optimistis pada pasar batu bara tahun depan, terutama dengan adanya vaksin Covid-19. Selain itu di pasar global, setelah adanya pemilihan presiden Amerika Serikat diproyeksikan beberapa konflik ekonomi global akan mereda. Dengan begitu permintaan batu bara pun diperkirakan akan meningkat.

“Strategi kami adalah memprioritaskan penjualan domestik, melindungi dan memperkuat pangsa pasar di luar negeri.”

Dileep menambahkan Bumi Resources juga akan fokus pada optimalisasi dan efisiensi semua biaya, membayar utang dan memperbaiki struktur permodalan. Kemudian meningkatkan dan menekankan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Saat ini perusahaan masih belum finalisasi target 2021, namun biasanya ekspor berkontribusi 75% dan dengan peningkatan produksi diharapkan bisa tetap berkisar 70-75%.

Bumi Resources juga menjadi eskportir batu bara thermal terbesar di Indonesia, dengan pangsa pasar terbesar China. Dengan begitu aturan larangan impor batu bara dari Australia ke China seharusnya dapat menguntungkan bagi Indonesia, khususnya perusahaan.

“Kami juga memiliki strategi untuk tumbuh melampaui batubara melalui PT Bumi Resources Minerals (BRMS) dan mencari lebih banyak peluang pasokan batubara untuk proyek hilir bernilai tambah seperti gasifikasi untuk PT Kaltim Prima Coal dan dan PT Arutmin Indonesia sebagai anak usaha BUMI. Selain itu juga meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” jelas Dileep.

Selain itu, kenaikan harga batu bara di akhir tahun juga dapat mendongkrak kinerja keuangan emiten batu bara terbesar ini, yang akan terlihat pada kuartal I-2021. Sebagian besar kontrak batu bara perusahaan mengacu pada indeks pada kuartal III-2020, sehingga pada kuartal IV-2020 masih ada kontrak dengan harga batu bara pada kuartal sebelumnya.

“Keuntungan dari kenaikan harga batu bara yang saat ini mencapai $ 76,7 per ton baru akan terlihat pada penjualan kuartal I-2021,” kata Dileep.

Selain itu, dengan adanya perpanjangan izin usaha pertambangan anak usaha perusahaan PT Arutmin Indonesia menjadi IUPK, dan KPC di tahun 2021, kinerja perusahaan ditargetkan meningkat tahun depan. Apalagi kedua anak usahanya pun telah menyesuaikan rencana produksi yang disetujui melalui RKAB oleh Kementerian ESDM dan akan mencapai minimal angka produksi yang sama dengan tahun ini.