International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali melakukan kajian atau review untuk saham yang bisa ditransaksikan secara margin dan short selling. Hal itu menyusul akan kembali dibukanya mekanisme perdagangan tersebut mulai Februari mendatang.

Baca Juga: Investor Ritel Pegang Saham BUMI hingga 5%-an, Siapakah Dia?

Transaksi Margin dari BEI

BEI

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, berdasarkan keterangan resmi BEI, Rabu (13 Januari), saham yang akan masuk daftar efek marjin dan short selling nanti merupakan hasil review selama enam bulan terakhir, terhitung sejak Agustus 2020 hingga Januari 2021.

Pelaku pasar dihimbau memperhatikan ketentuan terkait pelaksanaan manajemen risiko dan penyelesaian transaksi margin serta melakukan komunikasi dengan nasabah margin yang mungkin terdampak.

Jika terdapat nasabah margin yang memiliki rasio di atas 65% sebagai akibat dari dikeluarkannya efek jaminan dari daftar efek marjin dan short selling, maka broker dapat melakukan penyelesaian transaksi margin sesuai dengan kesepakatan bersama nasabah.

Akan ada sejumlah saham yang bakal dikeluarkan dari daftar efek margin terakhir seperti saham ADHI, AGRO, ASRI dan 40 saham lainnya. Januari 2020, BEI menghentikan transaksi short selling sebagai respon tidak kondusifnya bursa saham dunia akibat ketidakpastian global saat itu.

Emiten yang Berpotensi Terdepak dari Bursa!

Saham

Selain itu, BEI mengumumkan adanya sejumlah saham yang berpotensi dihapuskan pencatatannya di bursa (delisting). Salah satunya adalah PT Magna Investama Mandiri Tbk (MGNA).

Mengutip keterbukaan informasi di laman BEI, saham MGNA telah disuspensi di seluruh pasar selama 1 tahun dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 8 Januari 2022. Ditilik lebih jauh, saham MGNA disuspensi bursa sejak sesi pertama perdagangan pada 8 Januari 2020. Hal ini sebagai tindak lanjut pengumuman manajemen MGNA yang menghentikan seluruh kegiatan operasional pabrik anak usahanya.

Ada pula PT Sugih Energy Tbk (SUGI) yang per tanggal 1 Januari 2021 sahamnya telah disuspensi selama 18 bulan. Masa suspensi saham emiten di sektor migas ini akan mencapai 24 bulan pada 1 Juli 2021. Adapun saham SUGI terkena suspensi pada Juli tahun 2019 karena SUGI belum menyerahkan laporan keuangan tahunan 2018 sekaligus telat membayar denda.

Saat dikonfirmasi Kontan.co.id, Rabu kemarin, Direktur Sugih Energy, David K. Wiranata mengatakan bahwa pihaknya berencana menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada Februari mendatang sebagai upaya agar SUGI tidak kehilangan haknya sebagai perusahaan tercatat di BEI.

Selain SUGI dan MGNA, terdapat sejumlah saham lainnya yang berpotensi delisting, mulai dari PT Polaris Investama Tbk (PLAS) yang masa suspensinya telah mencapai 24 bulan pada tanggal 28 Desember 2020, PT First Indo American Leasing Tbk (FINN) yang masa suspensinya akan mencapai 24 bulan pada 9 Desember 2021, dan saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) yang telah disuspensi di seluruh pasar selama 6 bulan (per 10 Desember 2020) dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 10 Juni 2022.