International Investor Club – Saham PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) ditutup merosot 6,69% ke posisi Rp 1.325/saham pada perdagangan Senin (18 Januari) awal pekan ini. Saham ini pun menyentuh level terendah yang diijinkan oleh regulator (auto rejection bawah/ARB) yakni 7%.

Baca Juga: SWF Ditargetkan Akhir Januari, Ini Emiten yang Bisa Diuntungkan

AGRO Kena ARB

AGRO
Tribun News (doc.)

Padahal sebelumnya, saham ini telah sempat berada di posisi pertama top gainers pada tahun 2020 lalu, yakni melesat hingga 613,79%.

Selama sepekan terakhir, saham emiten ini telah menguat 0,76%, sedangkan selama tiga bulan terakhir saham AGRO telah melesat 299,1%.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, data perdagangan mencatat nilai transaksi saham AGRO hari ini sebesar Rp 234 Miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 174,9 miliar lembar saham. Sementara itu, investor asing melakukan aksi jual bersih saham AGRO sebesar Rp 1,42 Miliar di pasar reguler.

Amblesnya harga saham AGRO diakibatkan dari aksi ambil untung (profit taking) oleh investor, karena harga saham AGRO yang sudah cukup tinggi, sehingga rawan terjadinya aksi profit taking.

Pelemahan saham AGRO terjadi di tengah sentimen dari aksi korporasi AGRO yang akan berkolaborasi digital dengan sejumlah teknologi keuangan (fintech) dalam rangka meningkatkan penyaluran pembiayaan, di antaranya ada Investree, ModalRakyat, hingga KoinWorks.

Gandeng Fintech

Media Indonesia (doc.)

Sebelumnya, pada 8 Desember 2020, BRI Agroniaga juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan salah satu perusahaan Fintech yang sedang berkembang di Indonesia yaitu PAYFAZZ yang merupakan bagian dari Fazz Financial Group.

Hal ini juga diperkuat dengan manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang memang sudah lama memberikan sinyal bahwa anak usahanya ini akan bertransformasi menjadi bank digital.

Selain itu, harga saham-saham yang bergerak di sektor produksi nikel akhirnya juga mengalami koreksi parah hingga menyentuh level terendah yang diijinkan oleh regulator alias ARB pada perdagangan hari ini di tengah aksi ambil untung para investor setelah saham-saham ini melesat kencang sepekan terakhir.

Saham emiten nikel sendiri sebelumnya melesat karena sentimen super cycle komoditas dimana nantinya harga komoditas nikel diprediksi akan tembus US$ 20.000/ton.

Emiten sektor ini yang mengalami penurunan adalah TINS, NIKL, ANTM, INCO, DKFT, dan PURE.