SRTG

International Investor Club – Harga saham emiten yang dimiliki oleh Grup Saratoga, milik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dan pengusaha Edwin Soeryadjaya, melesat terus sepanjang pekan lalu (18-22 Januari). Grup ini di bawah kendali holding PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Pada Jumat (22 Januari) harga saham SRTG melesat 25% tembus level auto reject atas (ARA) ke level Rp 6.000/unit, dan pada awal minggu ini, harga telah ditutup turun Rp100, sekitar minus 1,67%.

Baca Juga: Yield Obligasi RI jadi Naik Karena Vaksin & Stimulus AS

SRTG Menguat bak Roket

Edwin SRTG saratoga
Alinea ID (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, bahkan pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, antrean pembelian yang menanti di level ARA menyentuh angka 11.176 lot atau senilai Rp 6,70 Miliar yang mengindikasikan apresiasi akan berlanjut pada perdagangan pekan ini.

Dalam sepekan terakhir harga saham SRTG mampu melesat 75% dan membawanya ke level tertinggi (all time high) sejak melantai di bursa saham domestik.

Usut punya usut apresiasi saham yang fantastis terjadi setelah perusahaan investasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2013 ini menjadi salah satu investor bagi perusahaan yang menawarkan saham perdananya (IPO) di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, SRTG menjadi salah satu anchor investor yang membeli 1 juta saham perusahaan Provident Acquisition Corp yang melantai di Nasdaq. Provident Group sendiri merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Saratoga.

Provident Acquisition Corp yang melantai sejatinya bukanlah perusahaan sembarangan karena perusahaan ini tidak memiliki kegiatan operasional dan komersial sama sekali.

Perusahaan ini termasuk ke dalam Special Purpose Acquisition Company (SPAC) atau yang dikenal dengan perusahaan cek kosong.

SPAC

Investmentu (doc.)

Berbeda dengan perusahaan biasa, SPAC memberikan keunggulan dan keuntungan dalam hal pendanaan. Apabila melalui jalur IPO tradisional perusahaan umumnya harus melalui serangkaian proses untuk memenuhi ketentuan yang ditetapkan regulator seperti menunjukkan laporan keuangan yang sudah diaudit.

Namun lewat SPAC itu semua tidak perlu. Proses IPO (initial public offering, penjualan saham perdana) berjalan lebih singkat karena memang SPAC tidak memiliki kegiatan operasional dan komersial apapun.

SPAC hanyalah perusahaan cangkang yang berfungsi untuk menghimpun dana dari investor yang kemudian akan digunakan untuk membeli, mereorganisasi hingga melakukan merger dengan perusahaan non-publik. Kegiatan ini kemudian disebut sebagai business combination atau biasa lebih dikenal dengan sebutan backdoor listing.

SPAC menjadi menarik dijadikan opsi untuk melantai di pasar modal oleh perusahaan rintisan alias startup karena prosedurnya yang cenderung lebih mudah dan tidak berbelit-belit dibandingkan dengan melantai di pasar melalui proses penawaran publik perdana (IPO) karena prosesnya yang tergolong lebih murah dan cepat.

Pada SRTG, SRTG, Provident Acquisition Holding bertindak sebagai sponsor. Orang di balik perusahaan investasi dengan nama Provident sudah tidak asing lagi tentunya di telinga para pelaku pasar yakni Winato Kartono.

Provident Capital dan Provident Growth sebelumnya memang sudah sering menjadi mitra SRTG dalam berinvestasi di berbagai perusahaan publik Tanah Air seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Tower Bersama Group Tbk (TBIG) dan PT Provident Agro Tbk (PALM).

Kemitraan dalam berinvestasi keduanya sudah berjalan sejak lama. Berdasarkan prospektus SPAC Provident Acquisition Corp yang didapat Tim Riset CNBC Indonesia lewat situs resmi Security Exchange Commission (SEC) AS, SRTG masuk lewat anak usahanya yaitu PT Nugraha Eka Kencana dengan membeli 1 juta lembar saham kelas A SPAC yang bakal melantai di Nasdaq ini.

Valuasi

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, berbicara soal valuasi, kendati tembus level ARA dan menguat hampir 75% dalam sepekan, harga saham SRTG masih relatif terdiskon dari nilai bukunya.

Mengacu pada laporan keuangan perusahaan September 2020, nilai buku per saham (PBV) SRTG berada di Rp 8.760/unit. Artinya saat ini SRTG ditransaksikan di 0,68 kali nilai bukunya alias undervalued karena berada di bawah median PBV perusahaan investasi publik di angka 1,01 kali.

Apabila menggunakan metode valuasi laba bersih dibandingkan dengan harga pasarnya (PER) juga masih tergolong murah dengan PER SRTG di angka 10,19 kali, lagi-lagi berada di bawah median perusahaan investasi publik yang memiliki PER sebesar 12,18 kali.

Selanjutnya, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang investasi, mengukur valuasinya juga harus menggunakan pendekatan lain. Salah satunya dengan melihat nilai aktiva bersih atau net asset value (NAV) setelah dikurangi kewajibannya.

Nilai NAV SRTG per September 2020 berada di Rp 20,6 triliun. Namun saat ini nilai NAV-nya seharusnya juga ikut bertambah seiring dengan kenaikan harga saham perusahaan investee-nya yaitu PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Tower Bersama Group Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Mitra Pinastika Multika Tbk (MPMX).

Mulai dari hari pertama Oktober sampai akhir perdagangan pekan lalu, semua investee SRTG mengalami kenaikan kapitalisasi pasar lebih dari 10%. Bahkan ada yang lebih dari 50%. Tercatat saham ADRO naik 14,4%. MPMX melesat 48,2%. Kemudian saham MDKA terapresiasi 48,92%. Terakhir ada saham TBIG yang naik 53,07%.

Berdasarkan kalkulasi CNBC Indonesia menggunakan acuan pergerakan harga investee SRTG yang merupakan perusahaan publik di Tanah Air dengan kepemilikan langsung dengan asumsi harga aset lainnya dan kewajiban neto perusahaan tetap, maka NAV emiten Sandiaga Uno dan Edwin Suryadjaja ini mengalami kenaikan sebesar 56% atau naik Rp 10,63 Triliun dari posisi September 2020 menjadi Rp 31,2 Triliun per Jumat pekan lalu.