SWF

Terbentuknya Lembaga Pengelola Investasi Indonesia (LPI) atau Soverign Wealth Fund (SWF) yang di global dikenal dengan nama Indonesia Investment Authority (INA), telah menjadi katalis positif bagi saham-saham di sektor konstruksi. Dalam riset terbarunya, Mirae Asset Sekuritas terbarunya menyebutkan saham-saham emiten konstruksi pelat merah akan diuntungkan dari keberadaan.

Baca Juga: PJAA Tawarkan Rp 731 Miliar Obligasi, Untuk Apakah Ini?

Efek SWF, Masihkah?

saham semen konstruksi
Bisniscom (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, nantinya LPI akan mengelola dana investasi termasuk untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur pemerintah. Kehadiran SWF juga akan menjadi sumber pembiayaan baru untuk pembangunan Indonesia ke depan, jadi tidak hanya berbasis pinjaman, tapi bisa dalam bentuk penyertaan modal atau saham. Sebagai dampaknya, diharapkan akan menyehatkan perekonomian Indonesia, perusahaan BUMN terutama di sektor infrastruktur dan energi.

Mirae menurunkan rekomendasi dari sebelumnya overweight, atau saham-saham BUMN konstruksi diperkirakan akan mengalami kenaikan yang bisa melebihi saham lain yang menjadi patokanya menjadi netral.

Mirae Asset pun mengungkapkan:

“Kami yakin kenaikan harga saham kontraktor BUMN baru-baru ini yang hanya didasarkan sentimen LPI telah melampaui fundamental mereka.”

Seperti diketahui, beberapa BUMN karya di tahun lalu mencatatkan penurunan kontrak baru akibat pandemi. PT PP Tbk (PTPP) misalnya, membukukan kontrak baru sebesar Rp 22,3 Triliun sepanjang tahun 2020, turun dari perkiraan sebelumnya Rp 23,6 Triliun.

Berdasarkan pemilik proyek, kontrak PTPP 45% bersumber dari swasta, 34% dari BUMN, dan 21% dari pemerintah. Pada tahun ini, PTPP menargetkan kontrak baru sebesar Rp 30,1 Triliun.

Mirae meyakini, target tersebut dapat dicapai dalam situasi saat ini karena masih di bawah nilai kontrak sebelum pandemi, yakni Rp 33,5 Triliun sepanjang tahun 2019.

“PTPP memiliki rekam jejak terbaik dalam mencapai target kontrak baru awal, dibandingkan dengan WIKA, WSKT, atau ADHI,” tulis Mirae.

Emiten konstruksi BUMN lainnya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), tercatat membukukan kontrak baru sebesar Rp 23 Triliun pada tahun 2020. Pada tahun ini, WIKA menargetkan kontrak baru sebesar Rp 40 Triliun.

“Kami mempertahankan sikap hati-hati kami terhadap kontrak baru WIKA karena kami yakin kontrak tersebut masih belum mendekati level sebelum pandemi, yakni Rp 41,2 triliun pada tahun 2019,” urai Mirae lebih lanjut.

Sementara itu, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), secara indikatif membukukan kontrak baru Rp 27 Triliun. Pada tahun ini, Waskita menargetkan kontrak baru Rp 30 Triliun. Mirae juga meyakini target ini masih cukup realistis untuk dicapai.

Adapun, untuk PT Adhi Karya Tbk (ADHI), secara indikatif membukukan kontrak baru sebesar Rp 20 Triliun. Tahun ini, perseroan menargetkan kontrak baru sebesar Rp 24 Triliun.

Secara terpisah, pengamat pasar saham PT MNC Asset Management, Edwin Sebayang menuturkan, tahun ini sektor konstruksi, infrastruktur menjadi salah satu sektor yang direkomendasikan. Hal ini, tak lain dari pembentukan LPI dan alokasi dana APBN 2021 yang cukup besar ke infrastruktur.

“Sektor yang direkomendasikan konstruksi, infrastruktur. SWF dan dana APBN cukup besar ke infrastruktur 416 triliun, itu menurut saya peluang besar mengarah ke sana.”