IPO

International Investor Cub – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan saat ini sudah ada sebanyak 30 perusahaan dalam daftar pipeline yang siap mencatatkan saham di bursa lewat mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tahun ini.

Baca Juga: Bank Net Indonesia Syariah Bandrol Harga IPO di Rp 103 per Saham

Emiten Siap IPO

IPO
PYMNTS (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Direktur Penilaian Perusahaan, I Gede Nyoman Yetna merinci, 30 calon emiten baru ini terdiri dari satu perusahaan masing-masing dari sektor energi, infrastruktur, transportasi dan logistik, serta sektor keuangan.

Selanjutnya, masing-masing sebanyak dua perusahaan dari sektor barang baku, sektor perindustrian, properi dan real estat. Berikutnya, tiga perusahaan di sektor barang konsumer primer dan sektor teknologi. Adapun tujuh perusahaan lainnya dari sektor keuangan.

“Tujuh perusahaan masih dalam proses pengelompokan berdasarkan sektor yang baru IDX Industrial Classification (IDX-IC).”

BEI menyebutkan, sampai dengan 25 Januari sudah ada tiga perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp 1,2 Triliun.

Tiga perusahaan yang sudah listing tersebut antara lain PT FAP Agri Tbk (FAPA) pada 4 Januari 2021, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang mencatatkan saham pada 6 Januari 2020, dan PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) pada 15 Januari 2021.

Tahun lalu, ada 51 emiten baru mencatatkan saham perdana di BEI.

Delisting PLAS

BEI - delisting saham Emiten

Selain perusahaan yang mencatatkan saham, BEI juga saat ini sedang memproses penghapusan saham emiten yang bergerak di bidang investasi, PT Polaris Investama Tbk (PLAS).

Keputusan tersebut dilakukan mengingat perusahaan belum memenuhi kewajibannya kepada bursa. Padahal, otoritas bursa sudah beberapa kali mengundang manajemen PLAS untuk meminta penjelasan.

“Saat ini kami sedang dalam proses melakukan delisting atas PLAS,” kata Nyoman.

Seperti diketahui, BEI sebelumnya gencar melakukan bersih-bersih terhadap emiten yang kelangsungan usahanya berpotensi terganggu.

Selain PLAS, beberapa nama emiten yang juga berpotensi terdepak dari bursa antara lain emiten milik terdakwa kasus Jiwasraya Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro seperti PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY), hingga PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO).

Lebih lanjut Nyoman menjelaskan, BEI juga aktif melakukan komunikasi dengan Perusahaan Tercatat untuk memantau perkembangan perbaikan yang dilakukan emiten yang di hentikan perdagangan sementara (suspend) karena terganggu kelangsungan usahanya.

Tidak hanya itu, terkait PLAS misalnya, BEI meminta agar menyampaian target setiap perkembangan dan menyampaikan informasi tersebut kepada publik melalui platform IDXnet per triwulan.