IHSG

International Investor Club – Ketua DK Otoritas Jasa Keuangan OJK, Wimboh Santoso, sudah optimistis indeks harga saham gabungan (IHSG) akan menyentuh level 7.000 dalam waktu dekat. Optimisme OJK dikarenakan aliran dana masuk pasar modal Indonesia mencapai Rp 36,6 Triliun sejak awal tahun 2021.

Baca Juga: WMUU Resmi Melantai, Masuk ke Kategori Saham Syariah

IHSG Bakal Menguat?

IHSG
Okezone (doc.)

Dalam sajian berita Sindonews dijabarkan, rinciannya sebesar Rp 24,3 Triliun di bulan Januari 2021 dan sebesar Rp12,25 di bulan Februari 2021. “IHSG tidak lama lagi akan menyentuh level 7.000. Kita lihat saja,” ujar Wimboh.

Dia menjelaskan potensi kenaikan tersebut akibat keyakinan masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi nasional ke depan. Menurutnya saat ini ada banyak likuiditas yang menganggur dan untuk sementara bisa ditempatkan di pasar modal.

“Sambil menunggu normalisasi sektor riil, investor bisa mengalokasikan dana di pasar modal. Kami juga sudah antisipasi membatasi supaya market tidak terlalu bullish di 2021 ini.”

Pihak OJK juga mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus 4 juta investor hingga 15 Januari 2021. Pertumbuhan ini merupakan perkembangan baik di pasar modal meski harus diimbangi dengan edukasi keuangan yang memadai kepada masyarakat.

Wimboh mengatakan pertumbuhan pesat investor ritel di pasar saham sejalan dengan program pendalaman pasar yang dilakukan OJK dengan dukungan seluruh pihak terkait.

Kasus Jiwasraya

Jiwasraya

Disisi lain, Jaksa Agung ST Burhanuddin meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadikan kasus mantan Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal OJK, Fakhri Hilmi sebagai peringatan. Fakhri menjadi tersangka atas dugaan pidana korupsi dalam pengelolaan investasi Jiwasraya.

Dia juga mengatakan jangan ada ego sektoral dalam pengawasan sektor perekonomian yang menyangkut nasib masyarakat luas. Pihaknya sendiri juga akan menggandeng OJK dalam mengusut kasus Asabri dan BPJS Ketenagakerjaan. “Masih pendalaman dan kami libatkan OJK,” katanya.

Lebih lanjut dia juga mengaku pihaknya akan memberikan pendampingan di masa pemulihan ekonomi nasional saat ini. Menurutnya, banyak keraguan baik di Bank Indonesia, OJK, dan instansi perekonomian lain untuk mengambil keputusan dengan cepat. Dirinya juga tidak menginginkan bila mereka yang sudah bekerja keras memulihkan perekenomian lalu harus ditahan. “Jangan sampai mereka sudah berkorban lalu menjadi korban,” sebutnya.

Fakhri dinilai mengetahui penyimpangan harga saham dari Direktorat Pengelolaan Investasi (DPIV). Namun dia tidak memberikan sanksi tegas. Padahal dia sudah mendapat laporan dari DPTE dan DPIV, dua badan yang membawahi direktorat pengawasan pasar modal OJK.

Dari keanehan itu, Kejaksaan menyebut alasan Fakhri tidak menjatuhkan sanksi tegas karena sudah ada kesepakatan dengan Erry Firmansyah dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartanto Tirto.