Bank Kecil

International Investor Club – Merebaknya isu lembaga keuangan asing mencaplok bank-bank kecil di tanah air membuat pergerakan harga saham bank BUKU II kompak menggeliat. Namun, investor tetap harus mewaspadai potensi terjadinya penurunan harga saham kembali yang cukup signifikan bila rumor pasar tersebut belum teruji kebenarannya.

Baca Juga: TBIG akan Jadikan Sisa Laba Rp 1,5 T Menjadi Dividen, Panen Nih!

Saham Bank Kecil Melesat

saham bank kecil
Menara News (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Head of Invesment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe berpendapat, kenaikan beberapa harga saham bank-bank kecil akhir-akhir ini cenderung lebih disebabkan oleh rumor pasar. Terbaru, misalnya, induk perusahaan Shopee, SEA Group dikabarkan tertarik membeli PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan PT Bank Capital Tbk (BACA) yang kabarnya diincar oleh OVO.

Kiswoyo tidak menampik, jika banyak lembaga keuangan asing melirik bank-bank kecil untuk diakuisisi, mengingat saat ini dari sisi marjin bunga bersih/net interest margin (NIM), Indonesia masih yang terbesar di dunia di atas 3%.

Ia pun mengungkapkan:

“Saham bank kecil pergerakannya, rumornya lagi mencoba diakuisisi pihak asing. Perbankan di Indonesia saat ini NIM-nya tertinggi di dunia sehingga menarik bagi asing. Di luar negeri, NIM 3% saja susah.”

Meski demikian, kenaikan yang terjadi belakangan ini, patut dicermati investor. Sebab, bila dilihat dari sisi valuasinya, bank-bank kecil tersebut kurang menarik dan dari sisi fundamental belum terlalu kuat.

“Price to book value/PBV 1 kali, tidak menarik, begitu ada isu akuisisi, yang masuk trader yang berspekulasi, beli duluan. Ketika isu dibantah ya bisa langsung drop lagi,” katanya.

Valuasi

BEI IDX

Di sisi lain, jika bank-bank kecil tadi masuk ke bank digital, saat ini belum ada perangkat yang bisa mengukur suatu valuasi bank digital di Indonesia. Bila bank-bank konvensional sekelas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan valuasi 4-5 kali nilai buku sudah termasuk paling mahal, maka, untuk bank digital saat ini belum bisa disandingkan perhitungan valuasinya menggunakan skema PBV.

“Normal pakai PBV, bank digital belum ada yang memvaluasi di Indonesia,” kata dia.

Sebelumnya, saham-saham bank kecil telah melesat cukup kencang seperti PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) yang keduanya terbang 35% ke level Rp 108 per saham.

Tidak hanya kedua saham tersebut saja yang terbang menyentuh level auto reject atas/ARA, 4 perbankan lain yang juga menyentuh level ARA yakni PT Bank Victoria Internasional Tbk (BVIC), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan PT Bank Capital Tbk (BACA). Belakangan, BACA dan BNBA belum mengetahui secara pasti rumor pasar tersebut.

Kenaikan tersebut, salah satu pemicunya adalah respons positif investor mengenai kabar Sea Group terkait ekspansi bank digital, juga adanya kebijakan dari OJK terkait konsolidasi perbankan yang mewajibkan modal inti bank minimal Rp 2 Triliun di tahun ini.

Kebijakan tersebut selaras dengan Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2020, bank diharuskan memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 Triliun tahun ini, Rp 2 Triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 Triliun tahun 2022. Sehingga, ada spekulasi, bank-bank yang belum memenuhi ketentuan harus melakukan merger dan akuisisi atau penambahan modal dari pemilik bank tersebut.

Sebagai informasi pada 2017 terjadi fenomena yang mirip ketika PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) dan PT Bank Harda Indonesia Tbk (BBHI) dirumorkan akan dicaplok oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk dijadikan bank digital.

Saham BGTG dan BBHI langsung melesat kencang mirip dengan kejadian saat ini, setelah rumor tersebut dibantah dan ternyata BBCA malah tidak memilih kedua bank tersebut dan meminang Bank Royal Indonesia.