International Investor Club – Saham PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) justru tersungkur ketika pertama kali diperdagangkan dengan harga pemecahan saham atau stock split Kamis kemarin, 18 Februari.

Berdasarkan data Bloomberg, emiten dengan kode saham HOKI itu turun 6,79 persen menjadi Rp 302 per saham pada akhir sesi I, Kamis (18 Februari). Pada awal perdagangan saham HOKI dibuka pada level Rp 330.

Baca Juga: Saham Bank Kecil Melesat, Awas Jebakan Bandar!

HOKI Jatuh Pasca Stock Split

HOKI
Kontan (doc.)

Dalam sajian berita Bisniscom dijabarkan, tercatat volume perdagangan saham emiten ini sebanyak 691,78 juta saham dengan nilai Rp 212,06 Miliar. Adapun, HOKI ditransaksikan sebanyak 31.624 kali di sepanjang sesi pertama perdagangan kemarin.

Mengutip pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham emiten ini telah disesuaikan setelah stock split dengan harga teoretis Rp 325 per saham. BEI pun menuliskan:

“Harga teorertis saham HOKI yang dicantumkan di JATS untuk pasar reguler dan pasar negosiasi pada 18 Februari 2021 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp 324.”

Sebelumnya, distributor beras merek Topi Koki ini mengumumkan pemecahan saham dengan rasio 1:4 dilakukan supaya harga saham perseroan lebih terjangkau oleh investor.

Direktur Buyung Poetra Sembada Budiman Susilo berharap, dengan adanya stock split tersebut harga saham perseroan menjadi lebih terjangkau dan likuiditas saham meningkat.

Budiman menjelaskan tahun ini pihaknya berencana membuat diversifikasi barang konsumer berupa makanan dan nonmakanan yang dapat dikonsumsi semua umur. Produk kesehatan itu nantinya akan diproduksi oleh anak usaha perseroan PT Distribusi Hoki Niaga.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2020, HOKI mencatatkan penurunan penjualan 23,6 persen secara tahunan menjadi Rp 936,57 Miliar.

Fundamental

fundamental

Selanjutnya, laba bersih perseroan tergerus 62,46 persen secara tahunan menjadi Rp 28,59 Miliar pada periode sembilan bulan pertama 2020.

Namun, HOKI mencatatkan kenaikan pos liabilitas sebesar 17,32 persen menjadi Rp 242,97 Miliar, sementara pos ekuitas hanya naik 0,38 persen menjadi Rp 643,98 Miliar, dibandingkan dengan periode akhir 2019.

Hal ini membuat aset HOKI bertumbuh 4,51 persen dibandingkan dengan periode akhir tahun 2019 menjadi Rp8 86,96 Miliar.

Dikabarkan juga, perusahaan kembali menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 10 persen – 15 persen pada tahun ini.

Target tersebut sama dengan target pertumbuhan yang dipasang oleh emiten tersebut pada 2020.

Direktur Buyung Poetra Sembada Budiman Susilo mengatakan tahun ini perseroan akan mengembangkan produk baru dalam rangka diversifikasi.