International Investor Club – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berhasil melesat kencang pada perdagangan hari Selasa (23 Februari) setelah terungkapnya rencana bisnis emiten ini kedepannya.

Dalam acara “Prospek Pasar Modal 2021” yang digelar CNBC Indonesia, Senin (22 Februari), Direksi Telkom membeberkan beberapa rencana strategis Telkom, mulai dari penawaran perdana (IPO) 2 anak usahanya, modal ventura Telkom, hingga mengenai jaringan 5G.

Baca Juga: Sentimen DP 0% Segera Tiba! Ke Emiten Otomotif atau Properti Ya?

TLKM Menyerap Minat

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, data perdagangan mencatat pada perdagangan kemarin, saham TLKM melesat kencang 9,46% ke level harga Rp 3.470/unit dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 343 Triliun.

Tidak hanya melesat kencang, saham TLKM juga ramai diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,2 Triliun dan menjadi saham dengan transaksi paling ramai di bursa pada perdagangan kemarin.

Investor asing juga tercatat masuk besar-besaran ke saham TLKM dengan pembelian bersih mencapai Rp 609 Miliar pada perdagangan hari ini dan menjadi saham yang paling banyak diborong asing. Selama tahun berjalan, asing sudah memborong TLKM sebanyak Rp 2,07 Triliun.

Sebelumnya, manajemen Telkom dalam acara yang digelar CNBC Indonesia membeberkan beberapa rencana strategis yang bisa menjadi pertimbangan investor.

IPO Anak Usaha dan 5G

Indozone (doc.)

Dari sisi penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia, Budi Setyawan Wijaya mengatakan bahwa perseroan akan membawa dua anak usaha untuk IPO, satu di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan satu di bursa Asia tanpa menyebutkan nama bursa.

“Tahun ini ada 2 [IPO], satu di Indonesia, satu lagi di Asia. Saya ga bisa naming [sebutkan nama] insya Allah tahun ini kejadian [realisasi]. Kalau dilihat kesiapan faktanya sudah beberapa go public.”

Adapun Telkom memang telah merencanakan untuk melepas anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) ke pasar modal. Ditargetkan eksekusinya akan dilakukan pada kuartal terakhir tahun ini, atau paling lambat pada kuartal pertama 2022.

Mitratel yang merupakan anak usaha Telkom yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi memiliki menara telekomunikasi yang tersebar di berbagai wilayah dan melayani semua operator seluler di Indonesia dengan jumlah lebih dari 22.000 menara telekomunikasi.

Selanjutnya, Telkom Indonesia melalui MDI Ventures akan tetap fokus menyuntikkan modal kepada startup, melihat potensi yang bisa dilakukan dengan startup digital terutama di masa pandemi

“Kita punya MDI Ventures di mana dia mengelola dana investasi Telkom yang lumayan besar, kita sudah investasi di 50-an perusahaan, berpotensi ke depannya bisa menopang revenue driver Telkom seperti yang disampaikan Pak Pandu Sjahrir [Komisaris BEI],” katanya.

Kemudian, berkaitan jaringan 5G, Budi Setyawan mengatakan untuk mengembangkan jaringan 5G di Indonesia banyak elemen yang harus disiapkan.

“5G tidak hanya lisensi. Kita harus siapkan infrastruktur misalnya fiber optic karena ini komponen penting ayang akan menghubungkan mini pool dengan 5G.”

“Kita juga siapkan data center di daerah. Jadi, aset properti sentral-sentra di daerah mulai dibangun menjadi regional data center agar lebih dekat ke pasar (market). Use case untuk industri agar terbantu dengan 5G dan efisien. itu hal-hal yang disiapkan untuk menyambut 5G.”

Menurut Budi, bisnis 5G ke depan cukup besar.”Konsumer pelanggan butuh kecepatan (speed) tinggi sehingga ketika mobile dapat akses tinggi.Ketika di rumah butuh akses cepat. Kalau ada 5G, ada VWA, terus untuk beberapa aplikasi virtual reality hanya bisa disediakan maksimum oleh 5G,” terangnya.

Dari sisi enterprise (korporasi), dengan adanya internet of things (IoT), dibutuhkan teknologi mendukung 5G yang tepat. “Secara size, saat ini belum bisa melihat angka. Secara kebutuhan, itu ada. baik di sisi konsumer atau enterprise,” jelasnya.