Saham yang Digoreng

International Investor Club – Praktik goreng-menggoreng di pasar modal bisa terjadi pada saham apa saja. Founder Ellen May Institute dan Emtrade, Ellen May mengatakan itu berlaku juga pada saham-saham yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia atau IPO juga rentan digoreng.

Ini tampak dari kenaikan tinggi saham yang baru IPO dalam kurun waktu beberapa tahun ini. Padahal sebagai emiten baru, tak banyak investor yang kenal dengan emiten tersebut.

Baca Juga: Saham-Saham Blue Chip Dilepas ‘Bandar Besar’, Lalu Bagaimana?

Waspadai Aksi Goreng di Saham Manapun

Pompom Saham
Bisniscom (doc.)

“To be very honest, iya. Memang dia belum punya track record. Kecuali kalau yang IPO perusahaan besar, contoh beberapa perusahaan gede yang belum IPO Wings, Kapal Api,” kata Ellen dalam program InvesTime CNBC Indonesia.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Ellen pun mengatakan jika perusahaan bagus dan sektor sedang diminati, maka investor mau berinvestasi di perusahaan tersebut. Namun Ellen juga meminta para investor berhati-hati pada saham IPO ini, harus menunggu sampai technical terbentuk 1-2 bulan.

Saat ditanya apa yang harus dilakukan investor pemula melihat emiten IPO tinggi, Ellen mengatakan jika masuk hari pertama dan beruntung langsung diamankan. Namun menurutnya dianggap sebagai bonus.

“Kalau masuk hari pertama cuan bungkus aja. Tapi jangan ngejar, istilahnya bonus saja. Baiknya beli sebelum listed.”

IPO

IPO saham
Tradimo (doc.)

Saham IPO memang beberapa kali menunjukan fenomena melesat tinggi secara cepat. Tahun 2021 sudah ada tujuh emiten yang melantai di Bursa dan seluruh nilainya naik secara kencang.

Salah satunya PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang terbang 2.810,71% sejak melantai. Perusahaan itu pertama kali melantai pada 6 Januari lalu dengan harga Rp420/unit dan ditutup Rp12.225/unit.

Padahal itu terjadi saat DCII tak diperdagangkan selama dua minggu akibat suspensi bursa yang menganggap kenaikan sahamnya naik kencang dengan tidak wajar.

Kenaikan emiten yang baru melantai ini kerap terjadi akibat saham yang beredar tidak menyebar rata ke para investor. Namun hanya dikuasai oleh beberapa orang atau kelompok dan menyebabkan mudah untuk menggerakkan harganya.

Terbaru adalah PT Bank Net Syariah Tbk (BANK) yang melesat kencang mendekati level tertinggi yang diperbolehkan regulator, Kenaikan nya 25% dalam sehari. Kenaikan itu ternyata sudah terjadi 13 hari berturut-turut bahkan sejak pertama kali melantai di harga Rp103/unit.

Bahkan saat bursa melakukan suspensi sebanyak dua kali tak menghentikan laju sahamnya yang melesat sebesar 1.327,18% sejak melantai pertama kali.