Delisting Lagi?

International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menambah nama emiten yang berpotensi dihapus dari pencatatan saham atau delisting.

Menurut pengumuman di keterbukaan informasi di BEI, pihak otoritas bursa menyurati PT Grand Kartech Tbk (KRAH), mengumumkan bahwa saham emiten tersebut telah disuspensi (dihentikan sementara) di pasar reguler dan tunai selama 6 bulan.

Baca Juga: Waspada! Saham Besar ataupun IPO Juga Bisa Digoreng

Delisting Emiten KRAH

KRAH
lowongan4400 (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, masa suspensi saham KRAH akan mencapai 24 bulan pada tanggal 31 Agustus 2022. Dengan demikian, pada tanggal tersebut, saham KRAH akan otomatis dihapus dari sistem pencatatan bursa.

Menurut ketentuan BEI, bursa dapat menghapus saham suatu emiten apabila emiten tersebut mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha, baik secara finansial atau secara hukum.

Selain itu, kondisi tersebut berdampak negatif terhadap kelangsungan status perusahaan sebagai perusahaan terbuka dan perusahaan tidak bisa menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang memadai.

Saham suatu emiten juga dapat dihapus apabila saham emiten itu hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir, akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai.

Sebagai informasi, KRAH adalah perusahaan teknik dan manufaktur di bidang perancangan dan pembuatan peralatan dan mesin yang melayani berbagai sektor industri.

Sebelumnya, BEI sudah melayangkan surat peringatan soal potensi penghapusan pencatatan saham di bursa alias delisting kepada enam emiten pada tahun ini.

Saham Lainnya

ARB saham
Bisniscom (doc.)

Selain KRAH, ada beberapa saham emiten yang terancam delisting dari papan pencatatan bursa tersebut, yakni PT Golden Plantation Tbk (GOLL), PT Sugih Energy Tbk (SUGI), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO). Lalu, ada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Nipress Tbk (NIPS), dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP).

Pada 29 Januari 2021, BEI mengingatkan Golden Plantation atau GOLL bahwa saham perusahaan sudah disuspensi atau perhentian sementara perdagangan selama 24 bulan pada 30 Januari lalu. Dengan demikian, GOLL sudah memenuhi kriteria delisting di bursa.

Akan tetapi, saham GOLL belum dihapus dari daftar pencatatan bursa hingga saat ini. Melalui surat kepada BEI pada 28 Januari 2021, Sekretaris Perusahaan GOLL Felicia Lukman menjelaskan, emiten sawit ini tidak memiliki intensi untuk delisting dari BEI.

Menurut penjelasan Felicia di dalam suratnya, pailitnya dua anak perusahaan GOLL yakni PT Bumiraya Investindo dan PT Airlangga Sawit Jaya, sangat berdampak pada keuangan perseroan. Ini karena keduanya merupakan salah satu kontributor terbesar dari pendapatan GOLL.

“Perseroan dalam upaya memperbaiki kinerja keuangan dan operasional serta untuk mempertahankan going concern perseroan Perseroan masih berupaya untuk mendapatkan investor untuk mendukung rencana bisnis Perseroan ke depannya.

Hal ini juga didukung oleh pemegang saham Perseroan yang terlibat langsung dalam usaha untuk mencari investor yang tepat untuk mengatasi kondisi Perseroan saat ini dan mempertahankan going concern Perseroan,” demikian tulis Felicia.

Selain GOLL, Bakrie Telecom atau BTEL juga berpotensi keluar dari bursa pada 27 Mei 2021. Tercatat emiten Grup Bakrie ini sudah disuspensi selama 20 bulan sehingga tersisa 4 bulan lagi untuk mencapai periode delisting.

Sebagai informasi, dalam laporan keuangan perseroan per 30 September 2020, BTEL hanya memiliki total aset sekitar Rp 4,54 Miliar. Angka ini mengalami penurunan dari periode akhir tahun 2019 yang saat itu masih sekitar Rp 11,23 Miliar.

Ironisnya, utang yang dimiliki perseroan per 30 September 2020 masih terbilang besar, yakni Rp 9,67 Triliun. Walaupun sudah mengalami penurunan, namun tingkat utang masih lebih besar dibandingkan dengan aset yang dimilikinya.

Berpotensi Hengkang dari Bursa

Selanjutnya, emiten penerbangan AirAsia Indonesia (CMPP) terancam hengkang dari papan pencatatan bursa pada 5 Agustus 2021. Pihak BEI tercatat sudah melakukan suspensi CMPP sejak 5 Agustus 2019.

Suspensi dilakukan lantaran AirAsia Indonesia yang terafiliasi dengan AirAsia Berhad ini belum memenuhi ketentuan jumlah saham beredar di publik (free float) sebesar 7,5% sesuai dengan aturan bursa. Data BEI menunjukkan, saat ini jumlah saham publik AirAsia hanya 1,59%.

Dalam aturan free float diatur dalam ketentuan V.1, yakni jumlah saham yang dimiliki pemegang saham non pengendali dan bukan pemegang saham utama paling kurang 50 juta saham dan minimal 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor.

Berikutnya ada saham emiten multifinance yakni First Indo American Leasing atau FINN. Sebelumnya, menurut data keterbukaan BEI pada 29 Januari 2021, BEI memutuskan akan melakukan delisting terhadap saham FINN mulai tanggal 2 Maret 2021.

Kemudian ada Nipress produsen baterai NS Battery. BEI menyatakan, saham Nipress telah disuspensi selama 18 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 1 Juli 2021.

Dua yang terakhir yakni Trikomsel (TRIO) dan Sugih Energy (SUGI). Per 17 Januari 2021 perdagangan saham TRIO telah disuspensi selama 18 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 17 Juli 2021.

Sementara untuk SUGI yang sahamnya juga dipegang Dapen Pertamina ini, per 1 Januari 2021 perdagangan saham SUGI telah disuspensi selama 18 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 1 Juli 2021.