Farmasi

International Investor Club – Mayoritas saham emiten farmasi dan perlengkapan medis ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin, 19 April. Kebangkitan saham-saham tersebut terjadi setelah dalam sebulan terakhir cenderung dilego oleh para pelaku pasar.

Berikut harga saham-saham farmasi pada penutupan pasar kemarin yang disajikan oleh CNBC Indonesia:

Saham Farmasi

farmasi saham
CNBC Indonesia (doc.)

Menurut tabel di atas, dari 11 saham yang diamati, 9 saham berhasil ditutup di zona hijau hari ini. Sementara, satu saham stagnan dan satunya lagi ambles.

Apabila menilik dalam sebulan terakhir, ada 7 saham yang ambles, sedangkan empat sisanya berhasil tumbuh.

Ini menunjukkan saham-saham farmasi mulai menggeliat kembali akhir-akhir ini setelah dalam sebulan belakangan cenderung ditinggalkan investor.

Adapun saham emiten distributor alat kesehatan dan jarum suntik sekali pakai, IRRA, menjadi yang paling melejit dengan kenaikan 16,56% ke Rp 1.865/saham di penutupan perdagangan kemarin.

Kenaikan ini berhasil menghentikan pelemahan selama dua hari beruntun, atau sejak Kamis pekan lalu (15/4).

Dalam sepekan saham IRRA naik 6,27%, sementara dalam sebulan tercatat ambles 12,03%.

Itama Ranoraya menjadi salah satu emiten yang kebanjiran berkah kala pandemi. Dalam rilis resmi perusahaan pada 30 Maret lalu, manajemen menyebut pada tahun ini milestone yang sejak awal direncanakan adalah manufacturer dan innovator peralatan medis dengan akuisisi PT Oneject Indonesia (OJI).

Menurut uraian manajemen, OJI yang saat ini sedang merampungkan fasilitas pabrik kedua jarum suntik sekali pakai (ADS) dan safety needle dengan kapasitas total 1,2 miliar/tahun, akan menjadi sentral fasilitas produksi berbagai alat kesehatan bagi perseroan ke depannya.

Dampak dari Vaksin

VAksin dolar
Sumber: financialexrpess.com

Sebagai informasi, berdasarkan keterbukaan informasi 8 April lalu, manajemen menargetkan volume penjualan untuk produk Antigen Test di tahun 2021 sebesar 5 juta – 10 Juta unit.

Adapun realisasi, volume penjualan pada Januari dan Februari untuk produk Antigent Test sebanyak 1,8 juta unit.

Pada tahun ini, manajemen IRRA menargetkan pertumbuhan berada dalam kisaran 80% – 100%.

Adapun, di posisi kedua ada saham farmasi pelat merah, KAEF, yang melejit 7,57% ke Rp 2.700/saham. Setelah dalam sebulan terakhir KAEF anjlok 12,62%, dalam sepekan saham ini tumbuh 6,30%.

Sebagai salah satu anak usaha PT Biofarma (persero) yang bersama INAF ditunjuk sebagai distributor vaksin Covid-19, KAEF ikut kecipratan untung saat pagebluk.

Ini bisa dilihat dari kinerja keuangan perusahaam per 31 Desember tahun lalu. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, KAEF mencetak laba bersih sebesar Rp 17,63 Miliar di tahun lalu.

Besaran laba pada 2020 naik jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang mana perusahaan mengalami kerugian Rp 12,7 Miliar.

Pembalikan kondisi dari rugi menjadi laba sejalan dengan naiknya pendapatan perusahaan dari penjualan pada tahun 2020 menjadi Rp 10 Triliun atau tumbuh 6,44% secara tahuhan (Year-on-year/YoY). Pendapatan perusahaan selama tahun 2019 mencapai Rp 9,4 Triliun.

Kabar terbaru mengenai perkembangan vaksin di Tanah Air, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito menegaskan pihaknya terus mendukung percepatan proses penelitian hingga proses produksi vaksin Merah Putih.

Dia juga memastikan, proses penelitian yang dilakukan Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman sudah sesuai dengan tools pengembangan vaksin yang disyaratkan BPOM. Hal ini disampaikan Penny saat meninjau perkembangan vaksin Merah Putih di PT Bio Farma (Persero), di Bandung.

Menurut Penny, penelitian pengembangan vaksin itu harus memenuhi standar high-tech dan advance sehingga semua tahapan harus diikuti dengan hati-hati.

Dalam kesempatan yang sama, dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Kepala Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Subandrio menyebut, penelitian yang dilakukan pihaknya telah memasuki tahap akhir dan sesuai dengan target yang ditentukan untuk pengembangan bibit vaksin selama 12 bulan. Eijkman saat ini dalam tahap optimasi agar produksi vaksin nanti bisa sebaik mungkin. Selain itu juga sedang dilakukan proses pengalihan vaksin dari skala R&D di laboratorium ke skala industri untuk dilakukan uji klinis.

Penny menambahkan, BPOM memperkirakan vaksin Merah Putih yang diproduksi Bio Farma sudah bisa menyelesaikan uji klinis pada semester I-2022 dan proses produksi sudah bisa dilakukan pada semester I-2022. Adapun vaksin Merah Putih yang dikembangkan Universitas Airlangga Bersama Biotis saat ini sudah masuk tahap preklinik dan diharapkan sudah masuk uji klinis pada kuartal IV-2021.