GoJek

International Investor Club – PT Multipolar Tbk (MLPL) tercatat telah melepas saham 11,9% saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) kepada tiga investor. Ketiga investor itu adalah PT Pradipa Darpa Bangsa, Panbridge Investment Ltd, dan Threadmore Capital Ltd 3,81%.

Baca Juga: ADRO akan Bagikan Dividen, Sudah Punya Sahamnya Belum?

GoJek dan MPPA

GoJek
GoJek (doc.)

Dalam sajian berita Detik dijabarkan, dengan MLPL menjual 11,9% saham atau sebanyak 896.327.200 lembar saham di MPPA, maka ada 3 pemegang saham baru karena membeli saham tersebut. Pertama, Panbidge Investment membeli 250.971.600 lembar saham atau yang mewakili 3,33% saham.

Selanjutnya, ada PT Pradipa Darpa Bangsa sebanyak 358.530.900 lembar saham atau mewakili 4,76%, dan terakhir adalah Threadmore Capital Ltd sebanyak 286.824.700 lembar saham atau mewakili 3,81%.

Saat ini yang menjadi pembicaraan hangat adalah mengenai PT Pradipa Darpa Bangsa yang menguasai 4,76% saham MPPA. Kabarnya, investor ini masih ada hubungannya dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias GoJek. Sebab, PT Pradipa Darpa Bangsa ini memiliki alamat gedung sama dengan kantor pusat GoJek Indonesia di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita pun buka suara terkait dengan informasi tersebut. Sayangnya, dirinya masih belum menjawab dan irit bicara terkait dengan kesamaan alamat kantor GoJek dengan Pradipa Darpa Bangsa yang merupakan pemegang saham baru di MPPA.

“Kalau nggak salah sudah ada klarifikasi ya terhadap spekulasi ini dari pihak Matahari?”

Klarifikasi

Iconomics (doc.)

Pihak Matahari Putra Prima pun telah memberikan klarifikasi melalui keterbukaan informasi BEI. Manajemen menyebut tidak mengetahui kebenaran informasi yang beredar khususnya mengenai hubungan PT Pradipa Darpa Bangsa dengan Gojek Indonesia.

Informasi ini, dikatakan Corporate Secretary MPPA Danny Kojongian tidak mempengaruhi keberlangsungan operasional perusahaan dan harga saham perusahaan.

“Tidak terdapat fakta/informasi material/kejadian penting yang dapat berpengaruh signifikan terhadap Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik,” kata Danny dari keterbukaan informasi BEI.

Selain itu sebelumnya diberitakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan potensi delisting perusahaan tercatat atau emiten PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia (KBRI) di papan pengembangan. Hal ini mengingat saham perseroan telah disuspensi selama 24 bulan pada 23 April 2021.

Dalam sajian berita Liputan6 dijabarkan, potensi delisting saham PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk ini merujuk kepada pengumuman BEI nomor:Peng-SPT-00008/BEI.PPI/04-2019 pada 23 April 2019 perihal penghentian sementara perdagangan efek PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk.

Selain itu, peraturan bursa nomor I-I tentang penghapusan pencatatan (delisting) dan pencatatan kembali (relisting) saham di bursa.