Lo Kheng Hong

International Investor Club – Tidak sedikit orang mencontek portofolio dari investor kawakan untuk menorehkan untung di saham. Seperti yang dimiliki oleh Lo Kheng Hong (LKH), salah satu investor tersukses pasar modal di Tanah Air.

Baca Juga: KBRI Berpotensi Ter-Delisting dalam Pengumuman BEI

Lo Kheng Hong dan 5 Saham Andalan

Lo Kheng Hong
Free Care Tips (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, saat ini LKH memiliki saham lima emiten (setara atau di atas 5%) yakni di PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), emiten multifinance dari Grup Panin, lalu saham pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan saham emiten media Grup MNC PT Global Mediacom Tbk (BMTR).

Lo Kheng Hong pun juga memegang saham emiten logistik dan pelayaran PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), dan emiten tambang PT Petrosea Tbk (PTRO), keduanya masuk Grup Indika Energy.

Lalu seperti apa prospeknya?

Analis PT Indo Premier Sekuritas, Mino mengatakan dari pandanganya ada tiga saham yang menarik dari kepemilikan LKH, yaitu GJTL, BMTR juga MBSS.

“GJTL sangat berdampak pada industri otomotif yang mulai bangkit, kalau penjualan otomotif naik otomatis GJTL akan positif. Kemudian BMTR yang bergerak di bidang media juga mulai baik khususnya di televisi karena belanja iklan sudah naik, sejalan dengan pemulihan ekonomi.”

Ia menambahkan:

“Sementara MBSS di bidang pelayaran juga akan selaras dengan proses pemulihan ekonomi. Kalau ekonomi bisa naik 4%, tentu akan positif ke perusahaan sektor pelayaran.”

Prospek Jangka Panjang

Lo Kheng Hong
Stockbit (doc.)

Mino menilai, jika investor menjadikan profil Lo Kheng Hong sebagai acuan dan ingin mengoleksi saham-saham itu, maka modalnya harus paham juga strategi atau cara LKH bertransaksi. Investor yang terkenal dengan value investing ini memang dikenal memegang saham dengan time frame yang cukup lama alias jangka panjang.

Mino menjelaskan Lo Kheng Hong melihat prospek. Ada dua cara dilihat dari historical keuangan perusahaan itu apakah konsisten membuahkan pendapatan dan laba yang bertumbuh, aset lancar dan tidak lancar, serta laporan arus kas. Selain itu juga harus memiliki pandangan industrinya apakah sedang bergairah atau tidak.

Tapi bukan hal mudah juga melihat saham yang ‘salah harga’ ini, karena banyak saham yang memiliki harga murah tapi tidak memiliki fundamental perusahaan yang prospektif.

Lantas bagaimana menghitung valuasinya?

Mino mengatakan bisa dengan metode Discounted Cash Flow (DCF) atau memperkirakan nilai investasi berdasarkan arus kas yang diharapkan di masa depan. Kedua dengan cara menganalisis rasio Price to Book Value (PBV).