International Investor club – Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan penjualan bersih KLBF mencapai Rp 6,01 Triliun pada kuartal pertama tahun 2021. Penjualan ini 3,8% jika dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu Rp 5,79 Triliun.

Akan tetapi, pertumbuhan penjualan Kalbe di kuartal pertama tahun ini lebih kecil ketimbang pertumbuhan sebesar 8% pada kuartal pertama tahun 2020. Pandemi Covid-19 mulai berpengaruh terhadap penjualan Kalbe sejak bulan April tahun 2020.

Baca Juga: ZYRX Ambruk Setelah Sempat Melonjak Kuat!

KLBF dan Prospeknya

KLBF
Tempo (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan,

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, Kalbe Farma mengantongi laba bersih Rp 716 Miliar di kuartal pertama di tahun 2021. Laba bersih ini naik 7,1% dibandingkan Rp 669 Miliar di periode yang sama tahun 2020.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai bahwa kinerja KLBF pada kuartal-kuartal selanjutnya tidak akan jauh berbeda dengan dengan realisasi pada kuartal pertama tahun ini. Ia pun mengungkapkan:

“tapi melihat kondisi di kuartal kedua 2021, ada berlakunya PSBB dan kebijakan yang membatasi mobilitas masyarakat dapat berdampak ke penurunan daya beli, sehingga kinerjanya berpotensi turun.”

Sukarno mengatakan, tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat tersebut masih jadi tantangan untuk emiten ini ke depannya. Selain itu, tantangan berikutnya juga datang dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meski demikian, sambung Sukarno, KLBF bisa menggenjot penjualan secara online. “Kemudian upaya KLBF terkait telemedicine sebagai kanal pengganti konsultasi dokter dan pasien, seperti yang dilakukan melalui aplikasi KlikDokter juga bisa jadi pendorong,” tambah Sukarno.

Analisa Fundamental

Saham

Juga, Sukarno menambahkan saham emiten ini masih menarik untuk dikoleksi karena secara valuasi jika dilihat dari average price to earning (PE) dan price to book value (PBV) sudah berada di bawah rata-rata dalam 5 tahun terakhir atau berada di standar deviasi -1. Jadi harga saham KLBF masih tergolong rendah. Berdasarkan RTI sekarang KLBF diperdagangkan dengan PER 23,47 kali dan PBV di 3,67 kali.

Untuk pelaku pasar, Sukarno menyarankan akumulasi dengan target harga Rp 1.600 per saham. Pada perdagangan Senin kemarin (3 Mei), saham KLBF terkoreksi 0,35% ke harga Rp 1.435 per saham.