International Investor Club – Kondisi pasar keuangan mulai membaik selama April bila dibandingkan Maret. Kinerja reksadana pendapatan tetap jadi yang paling unggul di antara jenis reksadana lain.

Baca Juga: SMAR akan Terbitkan Obligasi Rp 1,5 T untuk Membayar Utang

Kinerja Unggul Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Pendapatan Tetap
Akseleran (doc.)

Berdasarkan data Infovesta Utama, Senin lalu (3 Mei), rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta 90 Fix Income Fund Index tumbuh 1,41% secara bulanan. Menyusul, rata-rata kinerja reksadana pasar uang naik 0,24% secara bulanan mengutip Infovesta 90 Money Market Fund Index.

Sedangkan, rata-rata kinerja reksadana campuran yang tergambar dari Infovesta 90 Balanced Fund Index menurun 0,74% secara bulanan. Sementara, rata-rata kinerja reksadana saham menurun tercermin dari Infovesta 90 Equity Fund Index yang minus 2,44% secara bulanan.

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan selama April memang terjadi perbaikan pasar modal, terutama di pasar obligasi. Tercatat, Infovesta Government Bond Index yang menilai kinerja obligasi pemerintah naik signifikan 1,26% secara bulanan. Kompak, kinerja obligasi korporasi yang tercermin dari Infovesta Corporate Bond Index naik 0,49% secara bulanan.

Kondisi Pasar dan Yield AS

Reksadana

Sentimen positif di pasar obligasi datang dari yield US Treasury yang sempat stabil dan cenderung bergerak menurun dari 1,7% ke 1,5%. Sementara, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat membaik dan tercatat naik tipis 0,17% secara bulanan.

Namun, memang kenaikan tersebut belum bisa mengangkat rata-rata kinerja reksadana saham. Wawan mengamati kinerja reksadana saham menurun karena aset saham big caps masih banyak dilepas oleh investor asing. Selain itu, kinerja reksadana saham belum melaju kencang karena tertahan sentimen pelarangan mudik.

Wawan mengungkapkan:

“Ekspektasi penurunan pertumbuhan ekonomi dan pelarangan mudik membuat harapan awal yang tadinya pasar saham akan pulih, jadi meleset.”

Alhasil, Wawan memproyeksikan pemulihan kinerja pasar saham berpotensi mundur hingga ke tahun depan, bukan di akhir tahun ini. “Memang distribusi vaksin terus berjalan, tetapi tidak dipungkiri ekonomi untuk bisa kembali positif masih membutuhkan waktu lebih jika melihat tren yang terjadi saat ini,” kata Wawan.

Sebaliknya, Wawan melihat pasar obligasi jadi semakin menarik di tengah kondisi saat ini. Wawan melihat fokus investor saat ini kembali pada pasar obligasi yang lebih aman. Selain itu, dengan harga obligasi yang sudah anjlok di Maret, membuat investor semakin tertarik dengan kemungkinan kenaikan harga obligasi ke depan.

Wawan memproyeksikan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor acuan yang saat ini berada di 6,4% berpotensi menurun ke level normalnya di 6% bahkan di bawah angka itu. Jika yield berhasil turun ke level tersebut, Wawan memproyeksikan imbal hasil reksadana pendapatan tetap berpotensi tumbuh 7%-7,5% di tahun ini.

Sementara, hingga saat ini Wawan masih memproyeksikan IHSG tumbuh 10% hingga akhir tahun. Namun, proyeksi bisa berubah turun jika kinerja emiten di kuartal kedua 2021 kurang memuaskan.