International Investor Club – Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Selasa lalu (4 Mei), karena investor kembali mempercayakan obligasi pemerintah Indonesia dan masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap Jadi yang Paling Unggul di Bulan April

SBN Masih Oke

SBN

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, secara mayoritas, SBN acuan kembali ramai dikoleksi oleh investor, ditandai dengan penurunan imbal hasilnya (yield). Namun, beberapa SBN tercatat kembali mengalami kenaikan yield dan cenderung dilepas oleh investor pada hari ini. Adapun SBN yang mengalami kenaikan yield adalah SBN bertenor 1 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun.

Yield SBN bertenor 1 tahun dengan kode FR0061 naik 1,5 basis poin (bp) ke level 3,793%, kemudian yield SBN berjatuh tempo 15 tahun dengan seri FR0088 naik tipis 0,6 bp ke 6,444%, sedangkan yield SBN bertenor 30 tahun berkode FR0089 juga naik 1,7 bp ke 7,027%.

Sementara, yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara yang sebelumnya sempat naik hari ini kembali turun sebesar 2,9 bp ke posisi 6,452%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Yield Acuan

Obligasi Bond

Dari Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah pada awal pekan ini kembali menurun ke bawah level 1,5% sedikit atau turun 2,7 basis poin ke level 1,599% dari sebelumnya di level 1.626%.

Namun pada sore kemarin, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) berpotensi mengalami kenaikan kembali. Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield Treasury pada sore kemarin telah naik 2,2 basis poin ke level 1,621%

Pasar obligasi pemerintah Indonesia menjadi peralihan investasi dalam beberapa hari terakhir. Melansir data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, di pasar sekunder, hingga 28 April terjadi capital inflow di pasar obligasi nyaris Rp 10 Triliun.

Hal tersebut tentunya menjadi kabar bagus, setelah terjadi capital outflow Rp 20 Triliun sepanjang bulan Maret.

Sementara dari pasar primer, hasil lelang Surat Utang (SUN) pemerintah Selasa (27/4/2021) pekan lalu mulai ramai peminat. Incoming bid mencapai Rp 52,75 Triliun, sedangkan pada lelang SUN sebelumnya sebesar Rp 42,97 Triliun.

Pemerintah menetapkan target indikatif sebesar Rp 30 Triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 28 Triliun lebih baik dari lelang sebelumnya Rp 24 Triliun.

Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dilakukan hari ini juga menunjukkan hasil yang sama. Pemerintah menetapkan target indikatif Rp 10 Triliun, dan penawaran yang dimasuk sebesar Rp 19 Triliun, nyaris 2 kali lipat. Dari total penawaran yang masuk dimenangkan sebesar Rp 10 Triliun, sesuai dengan target.

Hal ini dikarenakan pelaku pasar cenderung kembali bermain aman dengan kembali mengoleksi obligasi yang tentunya sebagai aset safe haven, seiring masih belum kondusifnya perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) di sebagian negara Asia, terutama di India dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Investor masih terus memonitor situasi Covid-19 di India yang tak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada pekan lalu mengatakan bahwa satu dari tiga kasus baru infeksi Covid-19 di dunia muncul dari India.