International Investor Club – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat lalu (6 Mei), menyusul masih tingginya optimisme pelaku pasar terhadap aset surat utang pemerintah.

Baca Juga: LUCY Naik 10% dalam Hari Pertamanya Melantai di Bursa

SBN Kembali Menguat

SBN

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, mayoritas SBN acuan kembali dikoleksi oleh investor, ditandai dengan penurunan imbal hasilnya (yield), kecuali SBN bertenor 3 tahun dan 30 tahun cenderung dilepas oleh investor dan mengalami kenaikan yield.

Yield SBN tenor 3 tahun berkode FR0039 naik sebesar 2,1 basis poin (bp) ke level 5%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 30 tahun dengan seri FR0089 naik 0,5 bp ke level 6,918% Sementara, yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara kembali melanjutkan penurunan sebesar 1,2 bp ke 6,443%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pada Maret lalu, capital outflow di pasar obligasi Indonesia sekitar Rp 20 Triliun. Tetapi memasuki bulan April kondisinya berbalik, pasar obligasi Indonesia kembali menarik setelah yield obligasi (Treasury) AS perlahan menurun. Di pasar sekunder, kepemilikan obligasi oleh investor asing menunjukkan peningkatan.

Optimisme Pasar

Obligasi Bond yield

Melansir data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki asing tercatat senilai Rp 964,6 Triliun di akhir April, terjadi capital inflow Rp 13,2 Triliun dibandingkan posisi akhir Maret.

Sedangkan pada periode 1 sampai 4 Mei, capital inflow tercatat Rp 1,16 Triliun.

Sementara itu di pasar primer, lelang Surat Utang (SUN) pemerintah Selasa pekan lalu mulai ramai peminat. Incoming bid mencapai Rp 52,75 Triliun, sedangkan pada lelang SUN sebelumnya sebesar Rp 42,97 Triliun.

Pemerintah menetapkan target indikatif sebesar Rp 30 Triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 28 Triliun lebih baik dari lelang sebelumnya Rp 24 Triliun.

Tren tersebut masih berlanjut di pekan ini. Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dilakukan Selasa lalu (4 Mei) juga menunjukkan hasil yang sama.

Pemerintah menetapkan target indikatif Rp 10 Triliun, dan penawaran yang dimasuk sebesar Rp 19 Triliun, nyaris 2 kali lipat. Dari total penawaran yang masuk dimenangkan sebesar Rp 10 Triliun, sesuai dengan target.

BI pagi tadi melaporkan cadangan devisa (Cadev) kembali meningkat di April lalu setelah tergerus sebulan sebelumnya. Kenaikan tersebut bahkan membuat Cadev kembali ke rekor tertinggi sepanjang masa $ 138,8 Miliar.

Sementara itu pada Rabu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 3 bulan pertama 2021 mengalami kontraksi (minus) 0,96% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq). Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy), ekonomi Indonesia terkontraksi 0,74%.