International Investor Club – Reksadana terproteksi yang kerap disebut sebagai reksadana aman ternyata tetap penuh risiko. Baru-baru ini ada dua reksadana terproteksi yang aset dasarnya gagal bayar.

Gagal bayar surat utang berbentuk obligasi maupun medium term notes (MTN) menjadi risiko reksadana terproteksi yang menjadikan surat utang tersebut sebagai underlying asset.

Baca Juga: PTPP akan Terbitkan Obligasi Berkelanjutan di Q2 2021

Reksadana Terproteksi

reksadana terproteksi
Bareksa (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, belakangan, kasus gagal bayar MTN yang menjadi aset dasar reksa dana terproteksi kembali terjadi. Majelis hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang 6 Mei lalu menetapkan status Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara terhadap PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Dampaknya, SRIL jadi tidak bisa melunasi MTN Sritex Tahap III Tahun 2018 yang jatuh tempo pada Selasa (18/5).

Ternyata, persoalan tersebut berbuntut panjang karena MTN Sritex Tahap III tersebut meruapakan aset dasar produk reksa dana terproteksi besutan PT Bahana TCW Investment Management yang bernama Bahana Core Protected Fund USD.

PT Mandiri Manejemen Investasi (MMI) juga tengah menghadapi persoalan aset dasar reksa dana terproteksi yang gagal bayar. Aset tersebut adalah MTN II Tahun 2018 yang diterbitkan PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDM) yang gagal bayar di April lalu. Kini, MMI dan TDPM masih melakukan proses negoisasi.

Aset Dasar

Reksadana

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa reksadana terproteksi merupakan instrumen yang memiliki tujuan memproteksi nilai awal investasi. Salah satu cara untuk memproteksi nilai awal tersebut adalah dengan membeli obligasi yang dipegang hingga jatuh tempo.

Obligasi yang dipilih bisa obligasi negara dan obligasi korporasi. Bagi reksa dana terproteksi yang memiliki aset dasar obligasi negara, risiko default atawa gagal bayar nol karena dikelola oleh negara.

Namun, berbeda dengan reksa dana terproteksi yang memiliki aset dasar obligasi korporasi. Wawan mengatakan risiko gagal bayar dari obligasi korporasi akan selalu ada.

“Meski manajer investasi memilih obligasi korporasi dengan rating tinggi, tetapi bisnis perusahaan di beberapa kondisi bisa saja merugi, bisa saja perusahaan yang sehat menjadi kesulitan cash flow, jadi gagal bayar.”

Meski terjadi gagal bayar, Wawan mengatakan belum tentu investor rugi 100%. Beragam proses penyelesaian gagal bayar mulai dari negosiasi manajer investasi dengan penerbit surat utang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dana investor. Salah satu penyelesaiannya bisa ditempuh dengan restrukturisasi maupun mengonversi utang menjadi saham dan lainnya.

Dengan begitu, reksadana terproteksi secara definisi berusaha memproteksi dengan mekanisme tertentu dan dipegang hingga jatuh tempo sepanjang tidak ada gagal bayar. Wawan juga mengatakan tidak ada peraturan yang menyebutkan manajer investasi harus mengganti kerugian jika terjadi gagal bayar. Wawan pun mengungkapkan:

“Jika investor ingin reksadana terproteksi yang tidak akan gagal bayar, maka bisa memilih reksadana terproteksi yang aset dasarnya obligasi pemerintah tetapi dari segi imbal hasil tentu tidak setinggi reksadana terproteksi yang aset dasarnya obligasi korporasi.”