International Investor Club – Salah satu perusahaan tambang pure-play emas terbesar di Indonesia yaitu PT Archi Indonesia Tbk berencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada bulan Juni mendatang.

Baca Juga: Triniti Dinamik Bakal IPO Bulan Juni, Bagaimana Prospeknya?

Archi Indonesia Berencana IPO

archi indonesia
Bisniscom (doc.)

Dalam sajian berita Investing Indonesia dijabarkan, rencananya, Archi akan melepaskan 4.967.500.000 saham dengan nominal Rp 10 per saham yang mewakili 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO. 5 persen dari saham yang ditawarkan merupakan saham baru, sementara 15 persen lainnya merupakan saham yang dijual oleh pemegang saham Archi, yakni PT Rajawali Corpora.

Menurut laporan Kontan, pada masa bookbuilding ini (31 Mei – 9 Juni 2021), Archi membuka penawaran di kisaran harga Rp 750 – Rp 800 per lembar saham dengan target emisi IPO sebesar Rp 3,97 Triliun.

Dalam aksi korporasi ini, Archi telah menunjuk PT Citigroup (NYSE:C) Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, serta PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek untuk IPO.

Adam Jaya Putra, selaku Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Archi menjelaskan, sekitar 90% (sembilan puluh persen) dari dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok utang bank, sedangkan sisa dana yang diperoleh akan digunakan Perseroan serta anak usahanya yakni PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya untuk pembiayaan kegiatan operasional dan modal kerja.

Sebagai informasi, Archi memiliki lokasi tambang di provinsi Sulawesi Utara yang mulai beroperasi sejak 2011 dan telah memproduksi total 1.9 juta ons (setara dengan 58 ton) emas hingga 2020 dan memiliki Cadangan Bijih emas sebanyak 3,9 juta ons (setara dengan 121 ton) per akhir Desember 2020.

Amar Bank

Disisi lain, sebelumnya, PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) telah mencatatkan kinerja kuartal I 2021 yang solid, terlihat adanya peningkatan kinerja apabila dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2020 terutama pada penguatan likuiditas ditengah pandemi yang masih melanda Tanah Air.

Pada kuartal I 2021, tercatat portfolio kredit tumbuh sebesar 2,85% dari posisi akhir tahun 2020 yaitu dari Rp 1,72 Triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp 1,76 Triliun pada kuartal I 2021.

Dalam sajian berita Warta Ekonomi, Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian mengungkapkan:

“Walaupun pertumbuhan ekonomi nasional tetap terkontraksi sebesar 0,74%, Amar Bank terus mendukung masyarakat dan UMKM yang membutuhkan pinjaman dengan tetap memperhatikan kualitas dari calon debitur.”

Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) juga terlihat pertumbuhan yang konsisten, yaitu dari Rp 2,9 Triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp 3,3 Triliun pada kuartal I 2021 sehingga likuiditas bank tergolong baik dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) pada kuartal I 2021 tercatat sebesar 1.681,39%.