International Investor Club – Reksadana pasar uang disebut-sebut menjadi salah satu instrumen investasi reksadana terfavorit bagi investor institusi di kala volatilitas pasar tengah berlangsung seperti ini. Di sisi lain, bagi investor ritel, reksadana pasar uang menjadi pilihan favorit untuk menyimpan dana darurat saat pandemi ini.

Baca Juga: Penipuan Obligasi Dragon Terungkap, Merugikan Investor hingga Rp 39 M

Reksadana Pasar Uang Jadi Favorit

reksadana pasar uang
BukaReview (doc.)

Seperti apa sebenarnya reksa dana pasar uang? Melansir laman resmi Schroders, reksa dana pasar uang adalah reksadana yang dana kelolaannya diinvestasikan seluruhnya di instrumen pasar uang, deposito berjangka atau obligasi yang diterbitkan dengan jangka waktu 1 tahun atau obligasi yang sisa jatuh temponya kurang dari 1 tahun.

Dalam sajian berita Bareksa dijabarkan, umumnya, reksadana pasar uang memberikan potensi pengembalian investasi yang lebih tinggi dari deposito dan tabungan. Sementara dari sisi risiko, reksa dana pasar uang disebutkan memiliki risiko yang paling rendah dibandingkan reksadana jenis lainnya, namun tentu saja ini dibarengi dengan potensi pengembalian investasi yang lebih rendah pula.

Makanya, reksa dana ini dinilai sangat sesuai untuk investor pemula yang ingin berinvestasi di reksa dana karena belum memiliki pengalaman dan pengetahuan investasi pasar modal dan yang baru saja beralih dari produk tabungan atau deposito.

Anda yang memiliki profil risiko konservatif atau yang memiliki tujuan investasi jangka pendek bisa melirik reksadana pasar uang.

Reksa dana pasar uang juga dinilai sering dijadikan sebagai pilihan investasi oleh investor dengan profil risiko yang lebih tinggi. Yakni sebagai diversifikasi portofolio investasi atau ketika pasar saham atau obligasi mengalami ketidakpastian.

Manfaat dan Risiko

Maxmanroe (doc.)

Menurut laman Schroders, berikut adalah sejumlah manfaat serta risiko dalam berinvestasi di reksa dana pasar uang:

Manfaat :

1. Investasi yang terjangkau, bisa dimulai dengan Rp 50.000 bahkan Rp 10.000.

2. Potensi keuntungan yang lebih tinggi dari tabungan atau deposito.

3. Pengelolaan profesional oleh manajer investasi yang memiliki keahlian dan pengalaman.

4. Efisiensi waktu karena tidak perlu melakukan analisa investasi dan administrasi.

5. Diversifikasi, karena diinvestasikan ke berbagai jenis instrumen.

6. Keuntungan perpajakan, pengembalian investasi reksadana bukan merupakan objek pajak.

7. Likuid, dapat dicairkan sewaktu-waktu pada hari bursa.

8. Transparan, di mana perkembangan NAB dan data kepemilikan mudah dimonitor setiap saat.

Risiko:

1. Risiko penurunan nilai NAB antara lain karena turunnya harga efek portofolio, perubahan tingkat suku bunga yang mengakibatkan fluktuasi pengembalian instrumen pasar uang, wanprestasi dari bank atau penerbit surat berharga,serta force majeur.

2. Risiko ekonomi dan politik.

3. Risiko likuiditas.

4. Risiko perubahan peraturan.

5. Risiko pembubaran dan likuidasi.

Reksa dana pasar uang merupakan produk pasar modal, bukan produk perbankan jadi tidak dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Namun demikian, pengelolaan reksa dana pasar uang di Indonesia diawasi dan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).