International Investor Club – PT DCI Indonesia (DCII) baru melantai di Bursa Efek Indonesia awal tahun ini. Tepatnya tanggal 6 Januari 2021 dengan harga penawaran IPO Rp 420 per sahamnya.

Pada perdagangan hari pertama tersebut DCII langsung kena ARA alias auto reject atas setelah naik 25 persen ke posisi Rp 525.

Hingga penutupan 4 Juni 2021, harga saham DCII telah melonjak 4.423,81 persen ke posisi Rp 23.750 dibandingkan sejak IPO.

Lonjakan yang fantastis termasuk jika dibandingkan dengan saham Bank Jago (ARTO) salah satu emiten yang juga moncer akhir-akhir ini.

Baca Juga: DMXX Terkena Suspensi Bursa, Hati-Hati Ya!

DCII Terbang

DCII
Mancode (doc.)

Dalam sajian berita Kompas dijabarkan, harga saham emiten ini terus menanjak setelah Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Anthoni Salim memborong sahamnya pada akhir Mei lalu. Anthoni telah mencaplok 192,74 juta saham emiten yang bergerak di bidang usaha teknologi berkode DCII itu. Jumlah tersebut setara dengan 8,09 persen total modal disetor DCII.

“Tujuan dari transaksi, investasi di bidang teknologi,” ujar Anthoni Salim dalam keterbukaan informasi.

Dalam keterbukaan informasi juga dijelaskan, harga beli saham DCII dipatok di Rp 5.277 per saham. Dengan demikian, Anthoni menggelontorkan dana hingga Rp 1,02 Triliun untuk transaksi tersebut.

Pada tanggal transaksi itu terjadi, saham DCII ditutup menguat 19,8 persen dari Rp 11.475 menjadi Rp 13.750.

Setelah itu, harga saham DCII terus menanjak hingga mencapai Rp 23.750 atau meroket 4.423,81 persen sejak melantai di BEI.

Profil Perusahaan

Nah, bagaimana profil perusahaan ini hingga para investor berbondong-bondong memburu sahamnya?

Mengutip dari situs resminya, perusahaan yang didirikan pada tanggal 18 Juli 2011 ini bergerak dalam bidang industri penyedia jasa aktivitas penyimpanan data di Server (hosting) dan aktivitas terkait lainnya.

Layanan jasa utama yang disediakan perusahaan yaitu berupa layanan ruang pusat data (colocation).

Sedangkan bidang usaha penunjang yang dijalankan DCII adalah bidang real estat yang dimiliki sendiri atau disewa, yang mencakup usaha pembelian, penjualan, persewaan dan pengoperasian real estat baik yang dimiliki sendiri maupun disewa, seperti bangunan apartemen, bangunan hunian dan bangunan non hunian.

Bidang usaha penunjang yang juga dijalankan DCII adalah aktivitas teknologi informasi dan jasa komputer seperti manajemen insiden hingga digital forensik. Perusahaan juga menjalankan aktivitas konsultasi manajemen, hingga pengolahan data dan menjadi kantor pusat unit bisnis.

Berdasarkan profil di situs perusahaan, perusahaan ini didirikan oleh Toto Sugiri, yang merupakan alumni dari RWTH Aachen, salah satu kampus teknik di Jerman. Toto pun saat ini menjadi CEO DCI Indonesia.

Sebelum mendirikan DCII, Toto pernah berkiprah sebagai VP Information Technology di Bank Bali kemudian ikut mendirikan perusahaan software khusus perbankan, Sigma Cipta Caraka pada 1989 sebelum akhirnya diakuisisi oleh Telkom dan berganti nama menjadi Telkomsigma.

Ia juga sempat mendirikan Indonet, penyedia layanan Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia sebelum akhirnya mendirikan DCII.

Sementara itu mengutip dari keterbukaan informasi, kinerja keuangan kuartal I/2021 perusahaan ini mengalami peningkatan.

Apabila pada kuartal I/2020 pendapatan perusahaan sebanyak Rp 137 Miliar, naik sebesar 25 persen menjadi Rp 171 Miliar di kuartal I/2021.

Lalu, untuk laba bersih perseroan juga meningkat sebesar 55 persen menjadi Rp 48 Miliar pada kuartal I/2021 yang sebelumnya sebesar Rp 31 Miliar pada kuartal I/2020.

DCII resmi melantai di bursa pada 6 Januari 2021 lalu, sebanyak 357,56 juta saham atau setara 15 persen saham perusahaan dilepas ke publik dengan harga penawaran Rp 420.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, DCII mengatakan perusahaan melayani tujuh platform e-commerce terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan salah satu diantaranya adalah Tokopedia.

Selain e-commerce DCII juga melayani 124 pelanggan dari industri keuangan, lebih dari 30 perusahaan telekomunikasi dan lebih dari 100 pelanggan dari industri lainnya.