Yield SBN

International Investor Club – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) beragam pada perdagangan awal pekan ini, di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) karena investor terus mencerna data laporan pekerjaan AS terbaru.

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Jadi Favorit Investor, Kenapa Tuh?

Yield SBN Bergerak Campuran

SBN

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, sikap investor di SBN cenderung beragam, di mana pada SBN bertenor 1 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun ramai dikoleksi oleh investor dan mengalami penguatan harga serta imbal hasilnya (yield) mengalami penurunan. Sedangkan sisanya yakni SBN berjatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, dan 25 tahun cenderung dilepas oleh investor dan mengalami pelemahan harga, ditandai dengan kenaikan yield.

Yield SBN bertenor 3 tahun dengan kode FR0039 naik 0,1 basis poin (bp) ke level 4,826%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 5 tahun dengan seri FR0081 juga naik 0,2 bp ke posisi 5,388%, dan yield SBN dengan jatuh tempo 25 tahun dengan seri FR0067 naik 2 bp ke level 7,526%.

Sementara untuk yield SBN dengan tenor 20 tahun berseri FR0083 cenderung stagnan di level 7,066%. Adapun untuk imbal hasi SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara kembali turun sebesar 0,1 bp ke posisi 6,439% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Yield Acuan

Obligasi Bond yield

Dari AS, yield obligasi pemerintah (Treasury) acuan terpantau bergerak naik pada Senin dini hari waktu AS, di mana investor masih mencerna data laporan pekerjaan AS baru sembari menanti rilis data inflasi AS pada periode Mei 2021 yang akan dirilis pada Kamis (10 Juni) mendatang, pada waktu AS.

Mengutip data dari CNBC International, imbal hasil Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 2 bp ke level 1,579% pada dini hari waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Jumat lalu sebesar 1,559%.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen membahas prospek ekonomi pada Minggu kemarin.

Ia seakan menggembor-gemborkan proposal pengeluaran senilai $ 4 Triliun dari Presiden Joe Biden sebagai sesuatu yang akan baik untuk AS, bahkan jika itu menciptakan kenaikan inflasi. Dia juga mengatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi akan bermanfaat bagi negara.

Tarik menarik anggota parlemen Washington atas paket belanja infrastruktur terus menjadi fokus. Demokrat pada Rabu (9 Juni) mendatang akan mulai mempersiapkan RUU infrastruktur untuk pemungutan suara di DPR, dengan atau tanpa dukungan Partai Republik.

Presiden Joe Biden sekali lagi akan membahas kemungkinan kesepakatan dengan para pemimpin Partai Republik pada hari ini, setelah menolak tawaran RUU terbaru GOP untuk paket pengeluaran $928 miliar pada hari Jumat. Proposal pengeluaran terbaru Biden mencapai $1,7 Triliun.