PPN

International Investor Club – Analis PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) Indra Then mengatakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibebankan kepada korporasi akan menjadi sentimen yang kurang baik bagi pasar saham Indonesia.

Baca Juga: DCII Telah Terbang Ribuan Persen, Inilah Profil Sang Emiten

PPN Korporasi

PPN
Kargoku (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, kenaikan pajak ini dinilai akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengingat katalis PPN berefek langsung terhadap beban dari perusahaan, termasuk emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Oleh karenanya, ia berharap Pemerintah bisa menunda kenaikan PPN yang direncanakan di tahun depan, di mana PPN akan dinaikkan menjadi 12% dari saat ini ditetapkan sebesar 10%.

“Sebenarnya yang agak worry [khawatir] adalah tekanan domestik yaitu rencana PPN naik 12%. Jadi PPN harusnya di-hold dulu,” ujarnya kepada CNBC Indonesia dalam program Squawk Box.

Menurutnya, saat ini Indonesia masih dibayangi oleh Covid-19 dan belum diketahui kapan akan berakhir, sehingga dibutuhkan dorongan untuk pasar saham. Salah satunya dengan tidak menaikkan PPN agar pertumbuhan konsumsi bisa berlanjut.

“Jadi ya memang saya rasa PPN di hold dulu, jadi ada booster untuk market.”

Adapun kenaikan pajak ini direncanakan Pemerintah akan dilakukan di tahun depan. Hal ini tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) perubahan kelima atas UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

“Tarif pajak pertambahan nilai adalah 12%,” demikian tertulis pada pasal 7 ayat 1 RUU tersebut.

Pengaruh Langkah The Fed

fed

Sementara itu, untuk ancaman adanya taper tantrum atau rencana pengurangan pembelian aset-aset oleh bank sentral AS (The Fed), ia menilai masih terlalu awal bagi Indonesia untuk khawatir. Sebab, hal tersebut belum tentu terjadi karena AS masih melakukan penghitungan.

Ia menilai, saat ini AS masih menunggu hasil inflasinya dan The Fed dinilai tidak akan langsung mengubah suku bunganya dengan cepat.

“Kalau pun tapering terjadi di 2022, itu nanti kita ancang-ancang di Desember. Kalau di semester 2 awal 2021 ini terlalu dini menurut saya kita antisipasi,” kata dia.

Namun terkait dengan IHSG, saat ini dia menilai posisi IHSG masih akan bertahan di level 6.000.

“Saya optimistis IHSG akan masih bertahan di level 6.000, sentimen negatif berkurang dan akan lebih sideways [bergerak menyamping] kalau ada [isu] tapering.”