International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menghentikan sementara perdagangan saham (suspensi saham) PT Multipolar Tbk atau MLPL setelah harganya meroket tajam.

Baca Juga: DCII Telah Terbang Ribuan Persen, Inilah Profil Sang Emiten

MLPL di Suspensi

MLPL
Kontan (doc.)

Dalam sajian berita CNN Indonesia dijabarkan, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Endra Febri Styawan menyebut pembekuan sementara dilakukan karena terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

Suspensi dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai mulai sesi I tanggal 8 Juni 2021 hingga waktu yang belum ditentukan. Perdagangan kembali saham MLPL akan diumumkan oleh bursa nantinya lewat keterbukaan informasi.

Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham PT Multipolar Tbk (MLPL),” jelasnya lewat surat resmi yang ditandatangani.

Endra mengimbau kepada pihak yang berkepentingan, seperti investor, untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan.

Selama enam bulan terakhir MLPL meroket 1.223 persen dan dijual seharga Rp 675 per saham. Enam bulan lalu saham sempat hanya dihargai Rp 50.

Selama periode tersebut pula dana asing yang masuk tercatat sebanyak Rp750,35 miliar.

MLPL dibidik investor karena mulai meraba ke startup digital, seperti Ruangguru, OVO, hingga Klinik Pintar.

Beberapa waktu lalu, Direktur Utama MLPL Adrian Suherman menyebut suntikan dana ke sektor teknologi sejalan dengan visi perusahaan untuk berorientasi di bisnis digital.

“Kami percaya investasi ini akan menghasilkan imbal balik yang baik, yang akan kami sampaikan pada waktunya.”

Broker Desak PPN Ditunda

PPN
FlazzTax (doc.)

Sebelumnya juga diberitakan, Analis PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) Indra Then mengatakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibebankan kepada korporasi akan menjadi sentimen yang kurang baik bagi pasar saham Indonesia.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, kenaikan pajak ini dinilai akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengingat katalis PPN berefek langsung terhadap beban dari perusahaan, termasuk emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Oleh karenanya, ia berharap Pemerintah bisa menunda kenaikan PPN yang direncanakan di tahun depan, di mana PPN akan dinaikkan menjadi 12% dari saat ini ditetapkan sebesar 10%.

“Sebenarnya yang agak worry [khawatir] adalah tekanan domestik yaitu rencana PPN naik 12%. Jadi PPN harusnya di-hold dulu,” ujarnya kepada CNBC Indonesia dalam program Squawk Box.