International Investor Club – Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral nikel, PT PAM Mineral Tbk (NICL), mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan kemarin, 9 Juli.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Terdongkrak Oleh Laporan Keuangan Q2

NICL Melesat

NICL
Detik (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, perseroan melepas sebanyak 2 miliar saham baru atau setara 20,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan, dengan harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Rp 100 per saham, sehingga mengantongi Rp 200 Miliar.

Saat debut perdana, data BEI mencatat, saham NICL terpantau bergerak naik 35% (sentuh auto reject atas/ARA) atau 35 poin ke level Rp 135 per saham dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 1,30 Triliun.

Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka menjelaskan, IPO ini merupakan bagian dari strategi meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan dan tata kelola perusahaan. Ruddy menyatakan optimis dengan prospek bisnis pertambangan mineral nikel yang dijalankan perseroan saat ini.

Hal ini mengingat, jumlah pasokan nikel yang terbatas karena permintaan yang semakin meningkat dari industri kendaraan listrik. Market share untuk kendaraan listrik (EV) yang akan meningkat dari 2,5% pada tahun 2019 menjadi 10% pada tahun 2025.

Sementara itu, market share untuk industry EV diprediksikan akan meningkat menjadi 28% di tahun 2030 dan 58% di tahun 2040.

“Permintaan nikel akan melebihi pasokan yang ada. Potensi yang besar bagi perseroan untuk bertumbuh mengingat saat ini baru sebagian kecil dari area yang dieksploitasi.”

Penggunaan Dana IPO

IPO saham
Tradimo (doc.)

Dari aksi korporasi ini, perseroan akan menerima dana segar sebesar Rp 200 miliar.

Dana hasil IPO, sekitar Rp 72 Miliar akan dipergunakan untuk pengembangan usaha perseroan dan anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 30% untuk eksplorasi penambahan cadangan bijih nikel di area blok kerja perseroan.

Blok kerja tersebut antara lain blok yang diberi nama BCL, Raisa, Kartini, Tiara, dan Syahrini dengan total luas sekitar 51 hektare yang berada di dalam area pertambangan dengan IUP atas nama perseroan di Morowali.

Adapun, sekitar 70% akan dipergunakan oleh entitas anak, PT Indrabakti Mustika (IBM) untuk program eksplorasi lanjutan pengeboran spasi detail (infill drilling) penambangan cadangan bijih nikel di area blok kerja Kolaka Cendana, Longori, Silae, Komia, Kuma, Kondole dengan total luas 183 hektare di Konawe Utara. Kedua pengembangan usaha itu direncanakan dimulai pada paruh kedua 2021.

Sementara itu, sisanya akan digunakan sebagai modal kerja untuk operasional perseroan, anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 72% untuk modal kerja untuk operasional Perseroan dan sebesar 28% untuk modal kerja untuk operasional Entitas Anak, IBM.

Biaya operasional tersebut di antaranya seperti biaya kontraktor, biaya QAQC, biaya pengapalan, dan biaya operasional lainnya.

Bersamaan dengan penawaran umum saham ini, perseroan juga menerbitkan Waran Seri I.

Setiap pemegang 10 saham baru perseroan berhak memperoleh 13 waran di mana setiap 1 waran memberikan hak kepada pemegang untuk membeli 1 saham baru perseroan yang dikeluarkan dalam portapel.

Waran yang diterbitkan mempunyai jangka waktu selama 2 (dua) tahun. Adapun dana hasil pelaksanaan waran Seri I akan digunakan untuk penambahan modal kerja.

PAM Mineral merupakan perusahaan pertambangan nikel yang berdiri sejak 2008. PAM Mineral memiliki dua wilayah operasional, yakni di Sulawesi Tenggara Desa Lameruru Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara dan Desa Laroenai Kecamatan Bungku Pesisir Sulawesi Tengah.

Secara rinci, dalam prospektus disebutkan, beberapa area blok kerja dengan total luas sekitar 51 Ha dengan rincian nama blok yang memakai nama artis itu yakni:

1. BCL A dengan luas 7.28 Ha;

2. BCL B dengan luas 15.88 Ha;

3. RAISA dengan luas 8.46 Ha;

4. KARTINI B dengan luas 11.68 Ha;

5. TIARA dengan luas 3.78 Ha; dan

5. SYAHRINI dengan luas 4 Ha.