Reksadana Pendapatan Tetap

International Investor Club – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 08 Juli 2021 turun 0,07 persen ke level 6.039,9. Berdasarkan data id.investing.com, benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap ke level 6,6 persen, pada 08 Juli 2021.

Di tengah melemahnya IHSG, pasar obligasi masih stabil sehingga kinerja reksadana pendapatan tetap juga terus bertumbuh. Reksadana pendapatan tetap memiliki portofolio mayoritas di efek surat utang.

Baca Juga: DCII Masih Dikunci, Ini Kata BEI

Reksadana Pendapatan Tetap Masih Hijau

Unitlink dan Reksadana

Dalam sajian berita Bareksa dijabarkan, di aplikasi reksadana Bareksa terdapat dua reksadana pendapatan tetap yang mampu mencetak imbal hasil (return) 34,27 dan 33,24 persen dalam tiga tahun terakhir. Dua reksadana itu adalah Syailendra Pendapatan Tetap Premium dan Sucorinvest Bond Fund.

Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium mencetak return 34,27 persen tiga tahun terakhir. Berdasarkan fund fact sheet periode Juni 2021, portofolio investasi reksadana ini adalah Sukuk Negara Ritel Seri Sr-011 (SR011), Obligasi Negara Republik Indonesia Seri ORI015 (ORI015), Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0053 (FR0053), Obligasi Berkelanjutan I Indah Kiat Pulp & Paper Tahap III Tahun 2020 Seri B (INKP01BCN3), dan Obligasi Berkelanjutan II Jasa Marga Tahap I Tahun 2020 Seri A (JSMR02ACN1).

Sedangkan reksadana Sucorinvest Bond Fund mencetak return 33,24 persen tiga tahun terakhir. Berdasarkan fund fact sheet periode Juni 2021, portofolio investasi reksadana ini adalah obligasi Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0072 (FR0072), Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0076 (FR0076), Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0083 (FR0083), Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0087 (FR0087), dan SBSN Seri PBS004 (PBS004).

Moda Investasi

Reksadana

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.​

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Selain itu, sebelumnya dikabarkan,

Direktur Wholesale Transactional Banking BSI, Kusman Yandi mengatakan bahwa pasar modal syariah menyumbangkan aset Rp 1.077,62 Triliun dari total aset keuangan syariah di Indonesia yang mencapai Rp 1.823,13 Triliun pada Januari 2021. Ia pun mengungkapkan:

“NILAI TERSEBUT TERUS MENINGKAT SEIRING DENGAN MENINGKATNYA JUMLAH INVESTOR MILENIAL DI INDONESIA DI ERA PANDEMI INI.”

Di lain pihak, Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, tren keuangan syariah saat ini cenderung stabil dan sudah bisa dikatakan bertumbuh. Pasalnya, investor ritel menganggap bahwa berinvestasi di pasar modal syariah, baik di saham maupun reksadana syariah lebih aman dan stabil di masa pandemi seperti saat ini.

“Jika tren positif ini terus terjaga, maka ekonomi syariah di Indonesia semakin membesar hingga ketika masa pandemi berakhir,” ujar Banjaran.

Menurut Banjaran, pertumbuhan investor ritel di saham syariah luar biasa besar. Meski baru membeli 1 atau 2 lot saham syariah, namun sudah memberikan pertumbuhan yang signifikan.