Reksadana

International Investor Club – Dalam sepekan terakhir, imbal hasil (yield) obligasi AS cenderung mengalami penurunan setelah bank sentral The Fed menyatakan jika kenaikan inflasi saat ini bersifat sementara dan akan tetap menjalankan kebijakan program pembelian obligasi.

Baca Juga: Lo Kheng Hong: Saat Ini Banyak Saham ‘Mercy’ Harga ‘Avanza’

Strategi Investasi Reksadana

Reksadana pasar uang

Dalam sajian berita Bareksa dijabarkan, hal tersebut diproyeksikan menjadi katalis positif untuk pasar obligasi Indonesia, karena selisih (spread) yang cukup lebar antara imbal hasil (yield) acuan obligasi AS dan Indonesia yang saat ini sekitar 5,2 persen dapat menarik arus dana asing untuk melakukan pembelian obligasi di Indonesia, terutama SBN yang lebih sensitif terhadap isu makro ekonomi.

Berdasarkan Fund Fact Sheet bulan Juni, Sucorinvest Bond Fund menempatkan sekitar 97.46 persen dana kelolaannya pada obligasi dan atau sukuk pemerintah & BUMN Infrastruktur dengan total durasi portofolio sebesar 6.82.

Artinya, mayoritas obligasi dalam portofolio dalam reksadana tersebut adalah obligasi tenor panjang yang cukup sensitif dengan isu makro ekonomi.

Analisis Bareksa menilai risiko pasar sepanjang pekan ini di antaranya :

1. Tren lonjakan kasus baru harian Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)
2. Proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi 2021.

Adapun faktor yang bisa mendorong pasar di antaranya :

1. Kenaikan harga komoditas dunia
2. Tren suku bunga rendah

Akumulasi Saat Koreksi

Reksadana Indeks
Bibit (doc.)

Analisis Bareksa menyarankan investor dapat mulai melakukan akumulasi di reksadana saham jika kasus Covid-19 mulai menunjukkan perbaikan penurunan jumlah kasus ataupun ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi.

Selain itu, investor dapat pertimbangkan diversifikasi aset yang risikonya lebih moderat seperti reksadana pendapatan tetap. Ataupun instrumen investasi dengan risiko rendah seperti reksadana pasar uang.

Untuk diketahui, sepanjang pekan lalu periode 12-16 Juli 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,54 persen di level 6,072.51. Kenaikan terbesar di sektor Kesehatan 2,69 persen dan keuangan 2,12 persen.

Adapun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun turun ke level 6,49 persen dari pekan sebelumnya 6,63 persen.

Sebelumnya, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menawarkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2021 dengan jumlah pokok sebesar Rp 673 Miliar. Sekitar 60% bakal digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex).

Dalam sajian Berita Satu dijabarkan, dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) awal pekan ini, Obligasi Berkelanjutan III ini ditawarkan dalam dua seri yaitu seri A sebesar Rp 200 Miliar dengan tingkat bunga sebesar 7,50% berjangka waktu 370 hari.

“SERI B SEBESAR RP 473,5 MILIAR DENGAN TINGKAT BUNGA 9,55% PER TAHUN BERJANGKA WAKTU 3 TAHUN.”