SUN

International Investor Club – Pasar Surat Utang Negara (SUN) di tanah air pada pekan ini dinilai masih akan positif, didorong oleh spread antara SUN dengan US Treasury 10 tahun yang makin membesar. Meski demikian, penanganan Covid-19 masih menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi.

Baca Juga: Investasi Reksadana Ditengah PPKM dan Pertumbuhan Ekonomi

SUN Berpotensi Menguat

“Pekan ini masih akan positif, kalau berpatokan pada US Treasury yang masih rendah, spread antara US Treasury dan SUN misalnya untuk yang 10 tahun sudah diatas 500, sehingga investor asing masih melihat itu sebagai peluang. Apalagi PPKM harapannya dikurangi sehingga relatif akan lebih menarik lagi. Tapi, kalau diperpanjang hingga Agustus dan resiko Covid masih tinggi ini menjadi perhatian serius,” kata Senior Economist Samuel Sekuritas, Fikri C Permana.

Fikri menyebutkan, imbal hasil atau yield SUN berpotensi turun pekan kemarin. Misalnya saja, SUN dengan tenor 10 tahun akan berada di rentang 6,1%-6,2%.

Dalam sajian Berita Satu dijabarkan, Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto mengatakan, pasar obligasi sudah rally cukup signifikan dalam tiga minggu terakhir. Hal tersebut terutama dipicu likuiditas yang masih memadai dan rencana penurunan penerbitan target SBN.

Katalis Baru

FINOO (doc.)

Untuk pekan ini, pasar SUN perlu memiliki katalis baru yang bisa membuat pasar lebih bergerak lagi, terutama soal tren perkembangan Covid-19. Jika ada perbaikan positif maka akan tambah menggairahkan pasar SUN, yang yield bisa turun atau harga naik. Selain itu, hasil lelang sukuk dan outlook inflasi Juli juga menjadi sentimen. Sedangkan, dari global pergerakan yield obligasi AS atau US Treasury dan US Dollar Index atau yang disingkat dengan kode USDX seperti apa.

“Overall, menurut saya harga obligasi lebih sideways untuk pekan ini dengan yield di kisaran 6,25%-6,3%, karena sudah rally signifikan tiga minggu terakhir, sambil menunggu katalis positif baru lagi,” ujar Handy.

Handy menilai, dari valuasi harga SUN masih cukup murah. Di mana, yield SUN Indonesia seri acuan 10 tahun menurut proyeksinya akan berada dibawah 6% akhir tahun ini. “Faktor positif di kuartal IV dalah potensi supply SBN lebih rendah,” katanya.

Sementara, Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus mengatakan, pekan ini pelaku pasar dan investor akan tertuju terhadap pertemuan Bank Sentral Amerika (The Fed).

“Karena ini akan menjadi tolok ukur, akan kemana lagi pergerakan pasar obligasi selanjutnya. Ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, imbal hasil obligasi terus mengalami penurunan didukung oleh keyakinan akan penundaan pengurangan pembelian obligasi oleh The Fed. Namun pelaku pasar dan investor membutuhkan kepastian, oleh sebab itu fokus utamanya adalah pertemuan The Fed tersebut,” jelasnya.